Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Thursday, 31 December 2015

Analogi Mentari, Rembulan, dan Gerhana

"Languages are beautiful."

He said this to me one night, and I couldn't agree more. He's a very good friend mine. He is talented. He draws like a God. He writes poem like a God. And he has something in his head that is so powerful. His minds are beautiful, if I have to be honest (if you're reading this, I know you're flattered thanks to my words. You owe me martabak okay).

And this morning, he sent me this. His analogy poem. And it was just beautiful. His words were dancing with the flow. Everything was perfect. And I asked his permission to put it on my blog. He said it was okay, and as a credit title, he wanted to be known as Enola Reverof. That bitch. Mind his a.k.a name, it might take you forever to treasure it (but it only took me minutes to get it. I know I am that awesome).

So here it is. An analogy poem by Enola Reverof. It's written in Bahasa, and translating poems only makes them worst so I choose to let it still in Bahasa.

Here, feel the words dancing and leaving that "Enola-Reverof-you-bitch-why-you-so-good" mark both on your chest and head.

--

Analogi Mentari, Rembulan, dan Gerhana

Hei, sedang apa Nona Matahari?
Apa yang kaupikirkan?
Sorot matamu hangat. Kucoba tunjukkan pada dunia, mereka tidak mengerti
Karena ketidakmampuanku menyampaikan sinar kehidupanmu,
Aku hanya jadi segumpal cahaya dingin di gelap malam
Bagaimana aku bisa mendampingimu, menyentuhmu, berdiri sejajar denganmu?
Cinta ini tak pantas
Biarkan aku memandangimu dari jauh

Hei, sedang apa, Bulan?
Hari ini seperti biasa aku bersemangat
Apa yang kaupikirkan?
Aku selalu memperhatikanmu,
Kenapa kau selalu dingin?
Aku tak ingin melihatmu seperti itu,
Tapi aku tak cukup hangat untuk mencairkan perasaanmu, kurasa
Atau mungkin dunia berlari ke arahmu
Karena bosan dengan panasku?
Karenanya aku hanya jadi sesuatu yang tidak dinantikan
Bagaimana aku bisa mendampingimu, menyentuhmu, berdiri sejajar denganmu?
Cinta ini salah
Biarkan aku memandangimu dari jauh

Hei, hari ini seperti ada yang berbeda
Matahari seperti tersipu
Ada tamu?
Mungkin gumpalan awan yang mengurai cahayanya
Tetapi tak seperti biasanya, matahari tak sama ceria,
Tapi hangat meski berbeda

Rupanya Bulan
Ia bertamu ke Siang, singgasana Sang Mentari,
Untuk sekadar bertemu sesaat
Bak sepasang kekasih yang lama tak jumpa,
Mereka bertatap muka bertemu mata,
Kita di Bumi pun tak sanggup berbuat apa-apa

Siapa yang segan mencegah pertemuan takdir yang indah tak berperikan ini?
Bahkan beberapa di antara kita memperingatinya
Dengan beribadah menghadap kiblat,
Penuh harap akan hadirnya hari-hari berikutnya,
Di mana mereka suatu saat akan bertemu kembali,
Dan menyaksikan kisah cinta pedih
Yang menawan ini

--

Dan andai saja saat itu aku mengenakan kacamata hitam saat melihatmu singgah ke singgasana Sang Mentari...

***

Tuesday, 24 November 2015

Aku adalah Jarak Antar Aksara

Aku adalah jarak antar aksara
Terpisah, atau mungkin sengaja dipisahkan dari aksara untuk sekadar memenuhi nilai estetika

Aku adalah jarak antar aksara
Barisan rindu yang tak sempat terucap kembali mengalir sendu
lewat celahku yang tak seberapa lebar

Aku adalah jarak antar aksara
Yang menjaga kalian, para aksara, dari segala benturan dan tidak keteraturan

Aku adalah jarak antar aksara
Yang mengantar para aksara menuju pelabuhan terakhir mereka

Aku adalah jarak antar aksara
Yang tidak bisa memilih harus berada di antara aksara yang mana dan yang apa

Aku adalah jarak antar aksara
Yang sesekali ingin berubah menjadi aksara
Agar bisa diperhatikan--disentuh--dirasakan--

                             "... dan agar bisa membentuk suatu kumpulan aksara penuh makna bersamamu."

Aku adalah jarak antar aksara
Yang sudah lelah memisahkan aksara-aksara,

"... padahal aku ingin sekali bersatu dengan aksara; denganmu."

Aku adalah jarak antar aksara
Yang sudah lelah dan
Yang selalu merasa bersalah
Karena selalu memisahkan dan tidak pernah mempersatukan

Aku adalah jarak antar aksara
Yang selalu diam dalam suatu interval

Aku adalah jarak antar aksara
Yang ingin kalian, para aksara, bersatu
Walau aku, jarak, harus rela tergerus
Oleh karet penghapus
Dan akhirnya
Pupus

Ah, tapi siapalah aku;
Hanya jarak antar aksara
Yang hanya bisa mengucap rindu dalam diam dan interval
Yang sesekali ingin menjelma menjadi aksara agar dapat bersanding denganmu;
Aksara yang paling aksara

Lalu aku sadar,

"Tetapi, hidup selalu punya tetapi."*

---


*Kutipan Aan Mansyur dalam novelnya, Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

Saturday, 10 October 2015

- (4)



This is not actually the first time I recorded something and uploaded it on internet, but it still feels weird. Not talking about you but because actually this record *has* something to do with you so I guess, I feel, ... still weird.

Pardon my voice, and not quite-fit-intonations. I might ruin the whole poems (I guess I really did), but who cares. I recorded it for 2 days straight, waiting for the perfect record to be uploaded on the internet, and guess what, none of these records is perfect.

None.

And that's okay. It's just like our love-life, isn't it? Far from perfect, but still flowing.

---

Credits to him, all the beautiful poems I just read were from his old blog titled "Reassessing Eskapisme #1" and "..dan kau pun datang membakar dengan canggung".

If the video doesn't work, here's the link.

Friday, 21 August 2015

You; My 2 a.m. Thought



not 2 a.m. yet
still 12 a.m.
but should I wait
in 2 hours full of longing
so that I am
capable to say

I
      miss
                 you
                             ?
no I cannot
wait
any longer

***

these yearnings are unstoppable
so is time
the clock that I've been taking a glance at constantly for an hour while I write this post
keeps on ticking
because
it will take me to you;
my 2 a.m. thought

***

Thursday, 25 December 2014

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan dia lagi.
Dan saya menyadari sesuatu,
senyumnya masih tetap sama;
menawan dan indah
hanya kini,
tawanya menjadi lebih renyah

***

Saturday, 25 January 2014

Siklus


"In the tremendous sea of faces, we met, gathered then separated."

This is exactly what I feel right now. We're in the same sky, the same earth, the same country, the same land, and one question keeps remaining; why we should get separated?

*** 

Tuesday, 24 December 2013

A friend once told me
if he's gone, he's
not the best
if he's gone, he
doesn't worth to be
loved

Well, I said,
if he's gone,
he will be right
back
if he's gone,
he only needs time
to think;
what mistake he has
done in the past
by liking me

***

Tuesday, 3 September 2013









"Cinta kepada ibu jadi abadi
Cinta kepada anak tak mau berbagi

Cinta kepadamu
Kenapa menyergap berkali-kali?"

 -Abdul Wachid BS, Sajak Kembara


Saya menemukan diri saya tersenyum saat membaca penggalan
sajak ini tadi di dalam angkutan umum berwarna oranye
yang panas, pengap tapi ujung-ujungnya membawa
saya pulang juga
ke rumah
dan saya masih saja tersenyum

***

Tuesday, 20 August 2013

You belong in my mind
Just don't go

My mind is your home
Wherever and whenever you go,
Just remember that you have a home

And there's someone who waits for you to come home

Everybody always has someone to come home to, you know,

And you have it in me
Please, you, go home

I miss you

***

Saturday, 3 August 2013


Kotor.

Apa yang diharapkan dari yang kotor seperti ini?
Kebersihan? Atau pembersihan?
Sekalipun ada gerakan perubahan, kali ini tidak akan bersih hanya dalam satu atau dua kedip mata.
Ya sama kayak saya. Hati saya nggak bisa langsung bersih dari kamu. Sekalipun sudah bersih, masih ada sisa-sisa kamu yang berkerak di dasar hati.
Enggak, saya nggak bilang kalau hati saya kotor. Saya juga nggak bilang kalau kamu kotor.
Hati saya cuma penuh. Sumpek. Banyak barang yang tidak tertata yang selalu saya masukkan asal-asalan.
Ruang di hati saya sudah penuh. Makanya saya ingin melakukan pembersihan supaya masih tersisa beberapa ruang untuk ditempati oleh 'kamu lain' yang tepat.
Enggak, saya nggak bilang kalau kamu itu nggak tepat buat saya.
Kamu tepat---

Tapi mungkin, sepertinya, masih ada yang kamu lain yang tepat. Mungkin tidak setepat kamu tapi pasti ada.
Mungkin tidak setepat dan secepat kamu lari ke hati saya.
Tapi pasti ada. Nanti.***

Mungkin kamu lain yang tepat yang sedang saya cari itu masih tetap kamu.

Mungkin saya hanya memberi kesempatan kepada hati saya untuk membersihkan diri sebentar.
Dan begitu hati saya sudah bersih, mungkin satu-satunya kamu yang pulang itu ya memang dan hanya kamu seorang.***

Friday, 22 March 2013

Draft 1

Izinkan aku untuk menulis
agar aku bisa marangkai kata-kata manis
kamuflase dari rindu yang berbaris-baris

*

Jangan pergi jauh-jauh
lihatlah dahimu penuh dengan peluh
sini, duduklah bersamaku
segala dukamu pasti akan luruh

*

Cangkir ini sama seperti kemarin
di dalamnya juga terdapat cairan berkafein
namun rasanya tak sama lagi seperti kemarin
karena kamu pergi - membawa gulaku, membawa rasaku
entah kamu bawa kemana, hanya kamu yang tahu

*

Kamu menangis
padahal isi cangkirku belum habis
kalau begini, bagaimana bisa aku menampung
sisa-sisa gerimis yang turun dari kedua mata seorang sentimentalis?

*


Thursday, 24 January 2013

Roses are Red, Violets are Blue.

Roses are red
Violets are blue
Sugar is sweet
And so are you

***

Roses are red
Violets are blue
Do you know how long
I've been waiting for you?

***

Roses are red
Violets are blue
When things fall apart
Love is the glue

***

Roses are red
Violets are blue
Damn, I wanna hug you

***

Roses are red
Violets are blue
You know you're always in
Everything I do

***

Roses are red
Violets are blue
I'm counting the days until
I can finally see you

***

Roses are red
Violets are blue
Love never crossed my mind
Until the day I met you

***

Thursday, 13 December 2012

Kakak.

Kak! Tau nggak, sih? Sekarang saya jadi suka nulis puisi lho, Kak. Dan puisi itu sebenernya *ehem* buat kakak.

Dulu saya nggak bisa bikin sajak atau puisi gitu, Kak. Pasti nggak rima dan jadinya aneh. Saya pernah baca di novel Here After, "ryhmes make good poem." gara-gara puisi sama sajak saya nggak ber-rima, berarti puisi saya belum bagus. Dan waktu itu saya bikin puisi sama sajaknya masih pakai bahasa Indonesia. Belakangan saya mikir, "saya belum hebat kalau belum bisa bikin poetry pake bahasa Inggris." Kesannya aneh, ya? Bukannya saya nggak suka sama bahasa Indonesia lho, Kak. Tapi ya gitu deh hehehehe.

Saya mulai bikin puisi atau sajak singkat yang *ehem* ditujukan buat kakak ini sekitar dua hari yang lalu. Idenya datang tiba-tiba gitu, Kak. Masih belum bagus, sih hehe tapi itu dibuat pake bahasa Inggris :3 dan saya seneng! Puisinya dibuat waktu malam-malam, Kak. Sebelum saya tidur. Tapi nggak masalah kalau saya posting puisinya jam segini. Yang penting, kan bukan waktunya. Tapi kerja kerasnya, maknanya dan... kakaknya.


A star's shining above the sky
Making me who sees it cry
Cry because I can't find any ways,
Any ways to get in into your sweet deepest eyes


Itu puisi pertama saya buat kakak. 2 hari yang lalu.
Dan ini tulisan ringan tentang kakak. Dibuat pada hari yang sama juga. 2 hari yang lalu.

I love your eyes behind that glasses' frame
I love your voices. It's heartwarming
I love your bag - with superman's logo. A red one
I love your watch in your left hand
I love your chubby cheek
I love your way when you walk in corridor - leave a misery girl in the side with much heart-attacked

Kalau ini puisi yang saya buat kemarin malam.

Hey, you
Mr.Who-Wears-Glasses in social two
I adore you
And I know I do

Satu lagi. Puisi ini saya buat kemarin malam juga. Dan saya suka banget sama puisi ini.

Welcome to your thousand nights
Go Sleep in peace and tight
Because tomorrow I'll start to write
When everything in you's getting right

-o-

Thursday, 15 November 2012

Apa Kamu Tahu..? (note)

Dear, kamu. si-tanpa-huruf-A-besar.

Apa kamu tahu bahwa kamu telah sukses menawan hati saya?
Apa kamu tahu bahwa kamu satu-satunya pria yang berhasil membuat saya "mencintai" orang lain selain pria ber-ras mongoloid itu?
Apa kamu tahu bahwa kamu satu-satunya pria perokok yang dengan suksesnya menawan hati saya dan menatanya hingga sedemikian rupa?
Apa kamu tahu kalau jantung saya dapat berpacu lebih cepat dari biasanya saat tangan kita bersentuhan tanpa sengaja?
Apa kamu tahu kalau hati saya kadang berdesir saat kamu menyerukan nama saya?
Apa kamu tahu berapa banyak kata-kata yang telah saya curahkan tentang kamu dalam kurun waktu 4 hari ini?
Apa kamu tahu kalau saya pernah menangis tanpa alasan yang jelas saat saya memikirkan kamu?
Apa kamu tahu kalau saya selalu memperhatikan kamu melalui ekor mata saya?

Lebih dari itu, dan Demi Apapun yang ada di dunia ini,

Apa kamu tahu kalau saya menyukai kamu?

***

If I Should Love Again - Nina

Oh my love
You were the only one
Now you're gone and I'm alone

You left something behind. Me. -You Left Something Behind, beradadisini

All my friends
They say what's done is done
I pretend
But deep inside I know

Apa semuanya sudah berakhir? Belum. Perasaan saya belum berakhir - masih belum terlihat dimana ujungnya.


If I should love again
If I find someone new
It would be make-believe
For in my heart
It would be you


Itu akan tetap kamu, kan? Tidak akan berubah, kan? Tolong jawab "iya". Tolong. Saya maunya kamu.

And thought I hold him close
And want him now and then
I'll still be loving you
If I should love again


Karena saya akan tetap mencintai kamu. Tak peduli kamu berada di peringkat berapa di dalam hati saya. Atau setidaknya jika tiba hari itu, hari dimana saya tidak mencintai kamu lagi, ingatlah bahwa setidaknya saya pernah mencintai kamu. Sepenuh hati saya. Tanpa ada paksaan, tanpa ada tuntutan. Karena hati yang memilih.


All day long
I keep remembering
All the night
I think of you


Saya selalu memikirkan kamu. Terutama setiap malam. Sebelum saya beranjak terlelap di telan kelamnya malam. Saya selalu menyiapkan mental saya - bersiap-siap. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba saya bermimpi tentang kamu?

All my life
You'll be the song I sing
I'll get by
But this I swear is true


But this I swear is true - waktu saya bilang bahwa saya (pernah) mencintai kamu. :)

***

What if someone had stolen your place in my heart?
What if that day has come?
What if I can't love someone like I ever was doing - to you?

***

Saya harus mengakui sesuatu.
Kamu, si-tanpa-huruf-A-besar sukses menawan hati saya. Kamu hebat, another a. Well done.

Wednesday, 14 November 2012

Date A Girl Who Writes (rebloged)

Date a girl who writes.
Date a girl who may never wear completely clean clothes, because of coffee stains and ink spills. She’ll have many problems with her closet space, and her laptop is never boring because there are so many words, so many worlds that she’s cluttered amidst the space. Tabs open filled with obscure and popular music. Interesting factoids about Catherine the Great, and the immortality of jellyfish. Laugh it off when she tells you that she forgot to clean her room, that her clothes are lost among the binders so it’ll take her longer to get ready, that her shoes hidden under the mountain of broken Bic pens and the refurbished laptop that she’s saved for ever since she was twelve. 
Kiss her under the lamppost, when it’s raining. Tell her your definition of love.
Find a girl who writes. You’ll know that she has a sense of humor, a sense of empathy and kindness, and that she will dream up worlds, universes for you. She’s the one with the faintest of shadows underneath her eyelids, the one who smells of coffee and Coca-cola and jasmine green tea. You see that girl hunched over a notebook. That’s the writer. With her fingers occasionally smudged with charcoal, with ink that will travel onto your hands when you interlock your fingers with her’s. She will never stop, churning out adventures, of traitors and heroes. Darkness and light. Fear and love. That’s the writer. She can never resist filling a blank page with words, whatever the color of the page is.
She’s the girl reading while waiting for her coffee and tea. She’s the quiet girl with her music turned up loud (or impossibly quiet), separating the two of you by an ocean of crescendos and decrescendos as she’s thinking of the perfect words. If you take a peek at her cup, the tea or coffee’s already cold. She’s already forgotten it.
Use a pick-up line with her if she doesn’t look to busy.
If she raises her head, offer to buy her another cup of coffee. Or of tea. She’ll repay you with stories. If she closes her laptop, give her your critique of Tolstoy, and your best theories of Hannibal and the Crossing. Tell her your characters, your dreams, and ask if she gotten through her first novel.
It is hard to date a girl who writes. But be patient with her. Give her books for her birthday, pretty notebooks for Christmas and for anniversaries, moleskins and bookmarks and many, many books. Give her the gift of words, for writers are talkative people, and they are verbose in their thanks. Let her know that you’re behind her every step of the way, for the lines between fiction and reality are fluid.
She’ll give you a chance.
Don’t lie to her. She’ll understand the syntax behind your words. She’ll be disappointed by your lies, but a girl who writes will understand. She’ll understand that sometimes even the greatest heroes fail, and that happy endings take time, both in fiction and reality. She’s realistic. A girl who writes isn’t impatient; she will understand your flaws. She will cherish them, because a girl who writes will understand plot. She’ll understand that endings happen for better or for worst.
A girl who writes will not expect perfection from you. Her narratives are rich, her characters are multifaceted because of interesting flaws. She’ll understand that a good book does not have perfect characters; villains and tragic flaws are the salt of books. She’ll understand trouble, because it spices up her story. No author wants an invincible hero; the girl who writes will understand that you are only human.
Be her compatriot, be her darling, her love, her dream, her world.
If you find a girl who writes, keep her close. If you find her at two AM, typing furiously, the neon gaze of the light illuminating her furrowed forehead, place a blanket gently on her so that she does not catch a chill. Make her a pot of tea, and sit with her. You may lose her to her world for a few moments, but she will come back to you, brimming with treasure. You will believe in her every single time, the two of you illuminated only by the computer screen, but invincible in the darkness.
She is your Shahrazad. When you are afraid of the dark, she will guide you, her words turning into lanterns, turning into lights and stars and candles that will guide you through your darkest times. She’ll be the one to save you.
She’ll whisk you away on a hot air balloon, and you will be smitten with her. She’s mischievous, frisky, yet she’s quiet and when she has to kill off a lovely character, when she cries, hold her and tell her that it will be alright. 
You will propose to her. Maybe on a boat in the ocean, maybe in a little cottage in the Appalachian Mountains. Maybe in New York City. Maybe Chicago. Baltimore. Maybe outside her publisher’s office. Because she’s radiant, wherever she goes. Maybe even outside of a cinema where the two of you kiss in the rain. She’ll say that it is overused and clichéd, but the glint in her eyes will tell you that she appreciates it all the same.
You will smile hard as she talks a mile a second, and your heart will skip a beat when she holds your hand and she will write stories of your lives together. She’ll hold you close and whisper secrets into your ears. She’s lovely, remember that. She’s self made and she’s brilliant. Her names for the children might be terrible, but you’ll be okay with that. A girl who writes will tell your children fantastical stories.
Because that is the best part about a girl who writes. She has imagination and she has courage, and it will be enough. She’ll save you in the oceans of her dreams, and she’ll be your catharsis and your 11:11. She’ll be your firebird and she’ll be your knight, and she’ll become your world, in the curve of her smile, in the hazel of her eye the half-dimple on her face, the words that are pouring out of her, a torrent, a wave, a crescendo - so many sensations that you will be left breathless by a girl who writes.
Maybe she’s not the best at grammar, but that is okay.
Date a girl who writes because you deserve it. She’s witty, she’s empathetic, enigmatic at times and she’s lovely. She’s got the most colorful life. She may be living in NYC or she may be living in a small cottage. Date a girl who writes because a girl who writes reads.
A girl who writes will understand reality. She’ll be infuriating at times, and maybe sometimes you will hate her. Sometimes she will hate you too. But a girl who writes understands human nature, and she will understand that you are weak. She will not leave on the Midnight Train the first moment that things go sour. She will understand that real life isn’t like a story, because while she works in stories, she lives in reality. 
Date a girl who writes. 
Because there is nothing better then a girl who writes.
But I don’t like to write :(

rebloged from this

But I like - even love to write :'')

Sunday, 4 November 2012

Langit Biru dan Musim Semi


Hanya satu pintaku,
'tuk memandang langit biru
di pangkuan hangat milikmu.***

Disana sedang musim semi, kan? Wah, kebetulan sekali. Pasti warna langitnya cerah. Biru cemerlang. Hanya ada goresan awan tipis disana-sini. Pintaku hanya satu. Untuk memandang langit biru di pangkuanmu. Eh, ada satu lagi permintaanku. Memilikimu. Selalu.

Saturday, 27 October 2012

Maaf

rindu /rin·du/a 1 sangat ingin dan berharap benar thd sesuatu.

cinta /cin·ta/ a 1 suka sekali; sayang benar.

sayang 1 /sa·yang / a kasih sayang (kpd); cinta (kpd); kasih (kpd); 2 v sayang akan (kpd); amat suka akan (kpd); mengasihi; mencintai.

Definisi kata rindu, cinta dan sayang bisa dengan mudah saya temukan di kamus. Mudah. Dan saya juga dapat mendefinisakan ketiga kata itu saat saya melihat kamu. Lho, memangnya saya pernah melihat kamu?

Pernah!

Di setiap kata yang saya rangkai menjadi kalimat, saya selalu terbayang wajahmu. Yang oriental, dan dengan rahang-rahang yang menonjol. Dan juga di setiap lagu pengantar tidur yang selalu berkumandang dari radio usang itu--wajahmu selalu terbayang! Aduh, saya tidak sabar. Doraemon, mana mesin waktunya? Atau setidaknya pinjamkan saya pintu kemana saja-mu.

Saya mohon.

Karena rasa rindu, cinta dan sayang saya sudah tidak tersematkan lagi.***


Maaf  ya saya selalu menulis tentang kamu. Saya pernah membaca sebuah kutipan novel, tulis apa yang sedang kamu pikirkan. Karena saya selalu memikirkan kamu, jadi...?

Maaf ya. Suatu saat nanti saya akan menebus kesalahan saya dengan memberimu tiga definisi rasa yang sudah tersemat di dalam dada saya. Rasa yang sudah lama tersemat. Untuk kamu. Hanya untuk kamu. Karena sesungguhnya rasa ini milik kamu - dan juga saya. Milik kita berdua.

Maaf karena sudah dengan lancangnya saya menulis tentang kamu. Tanpa seizin kamu. Suatu saat, saya janji saya akan mengirimkan tulisan-tulisan saya untuk kamu. Bersamaan dengan datangnya koran dan botol-botol susu itu. Hanya untuk kamu. Karena tulisan saya ini memang hanya untuk kamu.

Monday, 22 October 2012

Tentang Rasa yang Lebih Besar

"Cinta bukanlah benda padat. Ngerti kamu?"
"Mengapa seorang pria bisa mencintai wanita, dan sebaliknya, walaupun jauh sebelumnya mereka tidak memiliki perasaan apa-apa sama sekali? Sebabnya ya, karena cinta itu seperti air, selalu mengalir untuk mengisi ruangan yang kosong. Ruangan yang kosong itu adalah hati manusia."
"Jangan lupa kalau air hanya mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Cinta juga begitu. Makanya, jika kamu ingin dia mencintai kamu, maka cinta kamu kepadanya harus jauh lebih tinggi."
-Here After: 96-97, Karya Mahir Pradana.

Masalahnya, sampai saat ini saya nggak tahu bagaimana perasaan orang itu kepada saya. Lebih tinggikah? Lebih rendahkah? Atau malah tidak memiliki perasaan kepada saya sama sekali?

Aduh, kamu itu susah ditebak. 
Perlu diingat kalau saya itu bukan Sherlock Holmes yang suka menyelesaikan kasus-kasus.
Saya hanyalah seorang gadis kecil yang sedang mencari jalan untuk pulang.
Pulang ke hati kamu.***

Sunday, 21 October 2012

Tentang Perjalanan

I will travel far.
Around the world.
With you.
Both. Together.
-Me



Dari dulu saya punya ambisi untuk menaklukan dunia.
Minimal keliling dunia dulu, deh. Baru menaklukan.
Tapi sekarang saya punya ambisi baru.

Menaklukan kamu.
Memenangkan hati kamu.

Setelah saya berhasil menaklukan kamu,
Kita berdua akan pergi mengelilingi dunia--menaklukan dunia.
Berdua. Bersama-sama.

Dunia berada di dalam genggaman kita.
Kita juga sedang mengenggam sesuatu.
Sesuatu yang biasa dipanggil cinta.

Ayo kita keliling dunia!