Showing posts with label #A. Show all posts
Showing posts with label #A. Show all posts

Saturday, 6 April 2013

Draft 2

Sudah hampir 5 bulan saya tidak menulis sesuatu tentang Aaron di sini. Dan sekarang saya kembali lagi.

Awalnya, saat itu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menyuruh saya dan teman-teman saya untuk menulis sebuah cerpen non-fiksi (kisah nyata). Dan saya bingung. Deadline yang hanya 1 minggu tidak mampu membuat saya untuk berpikir cerpen apa yang harus saya tulis.

Lalu saya memutuskan untuk menulis tentang Aaron. Dan ternyata kurang dari kurun waktu 1 jam, cerpen saya sudah selesai. Atas permintaan seorang teman, saya akan mempublish cerpen itu.



Jatuh Ke Sebuah Lubang


Jatuh cinta itu lumrah. Manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalamai apa yang namanya jatuh cinta. Saya juga pernah, beberapa kali. Meski saya sendiri juga tidak tahu apakah saya benar-benar jatuh cinta pada saat itu.

Bagi sebagian orang, makna cinta itu ambigu. Saya sendiri beranggapan kalau cinta itu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Sesuatu yang harus dikejar, sesuatu yang  pantas untuk dimiliki. Semua orang berhak jatuh cinta, bahkan seluruh komponen semesta alam ini berhak merasakan cinta dan kasih sayang.

Pembicaraan absurd baru saja terjadi tadi siang saat teman saya—Revin namanya, berkata, “Nih, ya gue kasih satu pernyataan. Elo setuju apa enggak. Bentar,” teman saya menulis sesuatu di buku catatannya lalu ia memberikan catatan itu pada saya. Saya membacanya.

Di lembar itu tertulis, “Cinta tidak harus memiliki.” Saya mengernyit. Nyaris tertawa. Saya berkata pada teman saya itu,

“Ya enggak setuju, lah,” kata saya. “kalo cinta nggak harus memiliki, gimana kita bisa mencintai? Cinta itu kan sesuatu yang harus diperjuangin.”

Teman saya mengangguk. Saya melanjutkan lagi, “Orang kata Pak Mario Teguh aja cinta itu harus memiliki, kok. Kalo nggak memiliki itu bukan cinta namanya.”

Teman saya kembali menuliskan sesuatu lagi tepat di bawah kalimat ‘cinta tidak harus memiliki’. Ia menulis, “Orang yang putus asa.”

Saya mengernyit lagi. Teman saya lalu menunjuk kalimat ‘orang yang putus asa’ dengan ujung pensilnya. “Kalo ada yang beranggapan bahwa cinta itu nggak harus memiliki, itu tandanya orang itu adalah orang yang putus asa.”

Saya menaikkan kedua alis saya dan mengangguk. Lalu saya tertawa.

Saya setuju dengan pernyataan yang seperti itu karena sesuatu yang bernama cinta itu memang berhak untuk diperjuangkan. Dan harus memiliki satu sama lain.

***

Saya sudah berulang kali jatuh ke dalam lubang yang sama. Lubang yang dinamai ‘cinta’ oleh beberapa orang.
Saya pernah membaca kutipan di internet seperti ini,

Dig a hole, named it love, watch them fall in love.

Menggali lubang, menamainya cinta, melihat mereka jatuh ke dalam cinta.

Dan saya sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang itu.

Namanya Aaron. Dia tinggal sekitar 5.250 kilometer dari sini. Tepatnya, dia tinggal di Australia.Sebuah jejaring sosial yang mempertemukan kami—atau sepertinya saya yang menemukan dia. Dia berwajah oriental. Ayah dan ibunya merupakan orang Tionghoa. Dan seperti perawakan orang Tionghoa pada umunya, Aaron memiliki kedua mata yang sipit, tulang hidung yang tajam, rahang yang keras, alis yang menipis di ujung dan menebal di pangkal.

Dan senyumnya. Senyum yang menurut saya dapat mencairkan glester es di laut arktik sekalipun.
Saya bertemu dengannya—atau lebih tepatnya mengenalnya sekitar 2 tahun lalu. Tanggal 8 Agustus 2011. Dan seketika hidup saya berubah hampir 180 derajat. Saya menjadi seseorang yang bukan saya. Saya menjadi lebih suka berlama-lama di depan PC saya sambil memandangi fotonya, saya menjadi lebih suka menulis berlembar-lembar sajak dan puisi dan saya menjadi seseorang yang melankolis.

Ini aneh. Saya sudah berkali-kali jatuh ke dalam lubang yang sama tapi saya tidak pernah jatuh sampai sedalam ini. Saya tidak tahu apa namanya tapi selalu ada sesuatu yang memaksa saya untuk menarik kedua sudut bibir saya hingga membentuk sebuah lengkung senyuman saat saya berpikir tentang dia.

Ini benar-benar aneh.

Saya bahkan tidak pernah berpikir kalau saya bisa jatuh cinta—atau apalah namanya—sampai seperti ini.  Jadi saya hanya membiarkannya. Barangkali seiring berjalannya waktu perasaan ini akan terkikis dengan segera.

Mungkin. Saya juga tidak tahu.

Ada sebuah percakapan dengan seorang teman beberapa saat yang lalu. Pada waktu itu, PC saya diinstall ulang. Seluruh data-data milik saya mulai dari dokumen, foto sampai lagu hilang. Kecuali beberapa data yang sempat saya backup sebelumnya.

Lalu saya berkata pada teman saya melalui twitter, Rifat namanya. “Semua data di komputer gue ilang. Tapi untung alamat rumah sama nomer telfonnya Aaron nggak ilang. Sempet gue backup.”

Rifat berkata, setengah menyindir mungkin, “Dih, dasar orang aneh.”

Saya berkata, “Kok aneh sih? Bagus dong..”

Ujarnya lagi, “Iyalah. Kalo bagus itu file penting kayak tugas yang gak ilang. Lah ini malah alamat sama nomer telfon.. ”

“Aaron kan juga penting, Fat…..”

“Sepenting apa sih Aaron?” seperti disiram air es, saat itu juga otak saya mendadak tumpul. 

“*skak mat* *nggak bisa jawab*”

“Nggak bisa jawab, kan kenapa lo bilang Aaron penting? Wajib dijawab sekarang.”

Saya merasa seperti disiram berliter-liter air es lagi. “Ih Rifat……”
“Coba jawab aja,” katanya lagi—defensif.

“Ini….. susah..” saya bingung menemukan kata-kata yang tepat. “Aaron penting ya karna dia penting. Seenggaknya buat gue dan buat sekarang. For the present.”

Jujur, saya kurang menyukai percakapan yang memojokkan seperti ini.

Rifat berkata lagi, “Emang Aaron pernah ngasih lo apa?”

“Harapan. Sayangnya harapan yang jawabannya nggak dateng-dateng.”

“Dan itu lo anggap penting?”

“Ironisnya, iya.”

“Kenapa nggak mencoba berfikir kalo Aaron gak akan pernah ngasih harapan ke elo?”

Hahahahaha, speechless. Waktu itu saya benar-benar tidak tahu mau menjawab apa.

“Aduh, nggak tau ya. Ini tuh kayak air. Ngalir gitu aja.. buat ke depannya ya kita liat aja nanti.”

“Terus lo maunya ngelupain Aaron apa tetep suka sama Aaron?”

“Tetep suka!!”

“Finally you always answer that, ”

“I do and I will.”

Saat saya menjawab “tetep suka” atas pertanyaan Rifat itu, saya merasa tidak yakin.

Apakah saya akan tetap menyukainya? Maksudnya jika suatu saat nanti perasaan itu akan segera terkikis, apakah saya akan tetap menyukainya?

Entahlah.

***


Sunday, 11 November 2012

The Other A

Di dalam sAyA terdapat 2 A. kAmu dan diA.

kAmu dan diA sama-sama orang baik.

Setengah hati saya dimiliki oleh kAmu dan seperempatnya lagi dimiliki oleh diA. Sekarang hati saya tinggal seperempatnya lagi. Dan saya bingung harus memberikan seperempat hati saya ini untuk kAmu atau diA.

Ah, kAliAn berdua sungguh membuat saya bingung!

Tolong, saya telah jatuh hati kepada diA - untuk yang kedua kalinya. ***

Sunday, 4 November 2012

Langit Biru dan Musim Semi


Hanya satu pintaku,
'tuk memandang langit biru
di pangkuan hangat milikmu.***

Disana sedang musim semi, kan? Wah, kebetulan sekali. Pasti warna langitnya cerah. Biru cemerlang. Hanya ada goresan awan tipis disana-sini. Pintaku hanya satu. Untuk memandang langit biru di pangkuanmu. Eh, ada satu lagi permintaanku. Memilikimu. Selalu.

Sunday, 28 October 2012

Untitled

Saya maunya sama kamu. Sungguh! Saya nggak mau sama yang lain. Cuma sama kamu saya bisa merasakan desiran dan getaran aneh di dalam diri saya. Cuma sama kamu saya bisa menjadi seperti sekarang. Kalaupun saya tidak bisa bersama kamu sekarang, saya akan menunggu lagi.

Mau, ya kamu nungguin saya? Supaya kita saling menunggu.

10 atau 15 tahun lagi. Mungkin bisa kurang, mungkin bisa lebih.

Mungkin.

Saturday, 27 October 2012

Maaf

rindu /rin·du/a 1 sangat ingin dan berharap benar thd sesuatu.

cinta /cin·ta/ a 1 suka sekali; sayang benar.

sayang 1 /sa·yang / a kasih sayang (kpd); cinta (kpd); kasih (kpd); 2 v sayang akan (kpd); amat suka akan (kpd); mengasihi; mencintai.

Definisi kata rindu, cinta dan sayang bisa dengan mudah saya temukan di kamus. Mudah. Dan saya juga dapat mendefinisakan ketiga kata itu saat saya melihat kamu. Lho, memangnya saya pernah melihat kamu?

Pernah!

Di setiap kata yang saya rangkai menjadi kalimat, saya selalu terbayang wajahmu. Yang oriental, dan dengan rahang-rahang yang menonjol. Dan juga di setiap lagu pengantar tidur yang selalu berkumandang dari radio usang itu--wajahmu selalu terbayang! Aduh, saya tidak sabar. Doraemon, mana mesin waktunya? Atau setidaknya pinjamkan saya pintu kemana saja-mu.

Saya mohon.

Karena rasa rindu, cinta dan sayang saya sudah tidak tersematkan lagi.***


Maaf  ya saya selalu menulis tentang kamu. Saya pernah membaca sebuah kutipan novel, tulis apa yang sedang kamu pikirkan. Karena saya selalu memikirkan kamu, jadi...?

Maaf ya. Suatu saat nanti saya akan menebus kesalahan saya dengan memberimu tiga definisi rasa yang sudah tersemat di dalam dada saya. Rasa yang sudah lama tersemat. Untuk kamu. Hanya untuk kamu. Karena sesungguhnya rasa ini milik kamu - dan juga saya. Milik kita berdua.

Maaf karena sudah dengan lancangnya saya menulis tentang kamu. Tanpa seizin kamu. Suatu saat, saya janji saya akan mengirimkan tulisan-tulisan saya untuk kamu. Bersamaan dengan datangnya koran dan botol-botol susu itu. Hanya untuk kamu. Karena tulisan saya ini memang hanya untuk kamu.

Monday, 22 October 2012

Tentang Rasa yang Lebih Besar

"Cinta bukanlah benda padat. Ngerti kamu?"
"Mengapa seorang pria bisa mencintai wanita, dan sebaliknya, walaupun jauh sebelumnya mereka tidak memiliki perasaan apa-apa sama sekali? Sebabnya ya, karena cinta itu seperti air, selalu mengalir untuk mengisi ruangan yang kosong. Ruangan yang kosong itu adalah hati manusia."
"Jangan lupa kalau air hanya mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Cinta juga begitu. Makanya, jika kamu ingin dia mencintai kamu, maka cinta kamu kepadanya harus jauh lebih tinggi."
-Here After: 96-97, Karya Mahir Pradana.

Masalahnya, sampai saat ini saya nggak tahu bagaimana perasaan orang itu kepada saya. Lebih tinggikah? Lebih rendahkah? Atau malah tidak memiliki perasaan kepada saya sama sekali?

Aduh, kamu itu susah ditebak. 
Perlu diingat kalau saya itu bukan Sherlock Holmes yang suka menyelesaikan kasus-kasus.
Saya hanyalah seorang gadis kecil yang sedang mencari jalan untuk pulang.
Pulang ke hati kamu.***

Sunday, 21 October 2012

Tentang Perjalanan

I will travel far.
Around the world.
With you.
Both. Together.
-Me



Dari dulu saya punya ambisi untuk menaklukan dunia.
Minimal keliling dunia dulu, deh. Baru menaklukan.
Tapi sekarang saya punya ambisi baru.

Menaklukan kamu.
Memenangkan hati kamu.

Setelah saya berhasil menaklukan kamu,
Kita berdua akan pergi mengelilingi dunia--menaklukan dunia.
Berdua. Bersama-sama.

Dunia berada di dalam genggaman kita.
Kita juga sedang mengenggam sesuatu.
Sesuatu yang biasa dipanggil cinta.

Ayo kita keliling dunia!

Tuesday, 9 October 2012

Metropolitan


  


Di kota Metropolitan itu,
yang penuh dengan emisi karbon dan unsur-unsur gas yang bau
Kita akan bertemu.
Memulai lembar baru;
yang nantinya akan disusun menjadi sebuah buku.
Buku yang berisi tentang sesuatu.
Sesuatu tentang aku dan kamu. ***

Saturday, 6 October 2012

Penting

Penting. Penting itu apasih?

penting
pen.ting
[a] (1) utama; pokok: perkara --; (2) sangat berharga (berguna) (3) mempunyai posisi yg menentukan

Percakapan absurd baru saja terjadi dengan salah seorang teman. Baru saja.

Semua ini bermula dari komputer saya (dan kakak saya tentu saja) yang terkena virus. Yang mau tidak mau harus di backup dan di install ulang. Semua data hilang. Dan saya bercerita pada teman saya ini. Rifat namanya. Saya bilang, "semua data ilang. tapi untungnya alamat sama nomer handphone-nya Aaron nggak keapus. sempet gue backup."

 

Terus saya bales,


Lalu percakapan ini berlanjut lagi.

 




 


I do and I will.
Eh, kamu. Coba liat, betapa beraninya saya ngomong kayak gitu (emang itu sih kenyataanya).
Dan jujur, ucapan-ucapan itu keluar begitu saja dari pikiran saya.

Saya setia, ya?
Kalo sama kamu, mudah-mudahan saya setia. Eh, amin.

Jangan lupa sertai nama saya diantara doa-doa kamu.
Tuhan itu Maha Pengabul,
Kali saja doa kita dikabulkan.

Satu amin dan beratus-ratus amin yang selalu di gumamkan tanpa jeda.***


Terimakasih atas percakapan ini, Mr.Hwang!


Friday, 28 September 2012

Thief In The Night



Somehow through this house of mine
The windows shattered
The brick walls crumbled down
All without a sound

How this happened, I dont know
But this funny feelings something 
I've never felt before

Like a thief in the night
you came around, you came around
To steal away my heart
Didn't see, didn't hear
When you came around
When you came around
to steal away my heart

You took everything away
You took my soul
You took my heart
But I've been smiling these days

If there's one thing that I've found
It's that love can sneak behind
And pin you to the ground

Like a thief in the night
you came around, you came around
To steal away my heart
Didn't see, didn't hear
When you came around
When you came around
to steal away my heart

Oh it came to be
Sounds hard to believe
That love found me
That love found me

Like a thief in the night
you came around, you came around
To steal away my heart
Didn't see, didn't hear
When you came around
When you came around
to steal away my heart

When you came around
I gave away my heart




Like a thief in the night, you came around. You came around to steal away my heart. Didn't see, didn't hear when you came around. When you came around to steal away my heart. ***

(Mungkin) Harusnya



Lotso! Kamu harusnya kan ada di film Toy Story 3. Kenapa kamu malah ada di film Up?

Lotso. Dia tiba-tiba nyangsang di film Up. Itu bukan tempatnya Lotso. Lotso harusnya ada di film Toy Story 3. Lotso, kamu salah alamat!

Sama kayak saya. (Mungkin) Harusnya saya nggak tinggal disini.

(Mungkin) Harusnya saya tinggal sama kamu di Benua Kangguru sana.

Melewati hari demi hari bersama-sama, duduk di bangku taman berdua sambil menunggu terbenamnya matahari.

Meniti tiap detil perasaan ini. Merajut perasaan ini yang mulai dari sehelai—lalu menjadi  selembar. Berdua. Bersama-sama.

(Mungkin) Harusnya saya yang menemani kamu.

(Mungkin) Harusnya saya yang duduk di sebelah kamu.

(Mungkin) Harusnya saya yang membantu kamu berdiri waktu kamu jatuh.

(Mungkin) Harusnya saya yang berada disana—memberi applause waktu kamu selesai memainkan jari-jari kamu diatas tuts-tuts piano itu.

(Mungkin) Harusnya saya yang merasakan adanya energi cinta dari setiap ucapan dan tindakan kamu.

(Mungkin) Harusnya saya sosok yang pertama kali akan kamu lihat saat kamu bangun pagi di tempat tidur.

(Mungkin) Harusnya saya yang membuat sarapan dan bercangkir-cangkir kopi untuk kamu setiap pagi.

(Mungkin) Harusnya saya yang jadi wanita masa depan kamu.

Ah, sepertinya saya salah alamat. (Mungkin) Harusnya saya sekarang ada disamping kamu, kan? Menyandarkan kepala di bahu kamu, menyesap kopi itu. Di malam musim semi. Terus begini. Sampai musim semi bepuluh-puluh tahun berikutnya.

Tolong, rindu ini sudah tidak tersematkan lagi.

Doraemon, mana mesin waktunya?

Wednesday, 26 September 2012

Untitled




Tau apa yang saya suka dari kopi?
Aromanya, rasanya, sensasinya, kamunya.

Aroma kafein. Menenangkan.
Rasanya. Yang pahit dan manis. Bittersweet. Kayak kamu.
Sensasinya. Yang suka membuat perut kembung dan mual jika tidak biasa meminumnya. Juga sensasi saat saya nggak bisa tidur gara-gara menyeruput secangkir kopi itu.
Kamunya. Kamu yang selalu mondar-mandir di pikiran saya waktu saya menghirup aroma kopi atau waktu saya menyeruputnya.

Hih, kamu!

Seenaknya saja mondar-mandir di pikiran saya.
Kamu tuh kayak hantu kalau dipikir-pikir.
Datang tiba-tiba, pergi juga tiba-tiba.
Dan kamu selalu bikin saya takut.

Iya, saya takut jika nanti saya nggak bisa ketemu kamu.

Saya nggak tau kamu suka kopi atau engga,
tapi boleh, ya suatu saat nanti saya bikinin kamu kopi lalu kita minum berdua?

Kamu yang duduk di kursi tinggi itu, menopangkan dagu dengan kedua tangan kamu lalu mencuri pandang kearah saya yang sedang sibuk dengan cangkir dan coffee-maker itu.

Dan saya akan melama-lamai proses pembuatan kopi itu.

Gantian. Biar kali ini kamu yang menunggu saya.

Saturday, 22 September 2012

Balon dan Perahu Kertas

 




Dua puluh tujuh, bulan lima, dua ribu dua belas.

Ingat dan tahu itu hari apa?
Hari ulang tahunmu.
Dan aku mengirimkan kado untukmu.
Kado yang tidak seberapa.
Tapi seluruh isi hatiku tercurahkan lewat hadiah itu.
Lewat balon.
Dan juga selembar kertas yang berisi suratyang dibentuk menyerupai perahu.
Balon yang aku terbangkan dan surat yang aku hanyutkan di kali dekat rumahku.
Ah, sudah bermuara dimana kira-kira balon dan perahu kertas itu?
Di rumahmu, kah? melewati Samudera Hindia.
Atau malah bermuara di gorong-gorong?
Dan apakah balon gas berwarna merah itu sudah mengempis dan tidak sanggup untuk terbang lagi?
Apakah balon merah itu sungguh tidak bisa sampai ke depan rumahmu?
Apakah... Apakah....

Ya, Tuhan. Labuhkanlah perahu dan balon itu di depan rumahnya.
Juga labuhkanlah hatiku ini di hadapannya.
Satukanlah hati kami.
Karena 10 atau 15 tahun lagi hati kami akan menyatu.
Membentuk suatu barang imajiner yang disebut dengan cinta.
Ah, cinta.
Cinta yang tertulis dan terungkapkan secara tidak langsung lewat sebuah balon gas dan sebuah perahu kertas.

Dan yang aku tahu, cinta itu kamu.
Karena cinta aku ada di kamu.
Nggak muluk-muluk, kan?

Friday, 21 September 2012

Lego

Tau lego?
Mainan waktu aku kecil.
Aku ingat. Merangkai lego-lego itu menjadi sesuatu yang entah apa namanya.
Lego yang bentuknya persegi. Berwarna biru, merah, kuning dan hijau.
Kadang aku kesal. Kadang aku bosan.
Lalu aku menghancurkan susunan lego itu yang tingginya tidak sampai tigapuluh sentimeter.
Dan potongan lego itu menghilang. Tercecer entah kemana.
Lalu bertahun-tahun kemudian aku menemukan potongan lego itu di bawah tempat tidurku.
Usang, kotor dan berdebu. Dan aku lupa bagaimana rasanya bermain lego.
Dan aku disini. Berdiri di bawah sinar rembulan.
Menyusun kembali lego-lego itu—lego perasaan ini.
Lego itu sudah tinggi sekarang.
Dan aku tidak kesal. Aku tidak bosan.
Itulah alasan mengapa aku tetap menyusun lego perasaan itu sampai setinggi ini.
Dan aku tidak berniat untuk menghancurkannya.
Karena aku tidak siap jika aku harus menemukan potongan lego itu bertahun-tahun kemudian di bawah tempat tidurku.
Usang dan berdebu.

Imajiner

Ingin rasanya aku menulis lagi.
Tentangmu.
Menulis rentetan huruf dan kata-kata yang penuh dengan emosi.
Ingin rasanya aku sematkan namamu dalam tulisan ini.
Tapi tidak bisa.
Namamu tampak imajiner.
Ada yang aneh saat aku mencoba untuk menyematkan namamu.
Tapi aku bisa melafalkannya dengan lantang dan jelas.
Tak jarang juga aku menyebut namamu dengan lirih.
. . . . .  . . . .  . . . .
Imajiner, kan?

Tuesday, 18 September 2012

Bayangan

Kita berbeda iman - yeah?

Dan katanya itu dosa. Benarkah?

Maksudku, dimana dua orang insan yang berbeda kepercayaan dan iman menjadi satu, membentuk kisah cintanya sendiri. Sedemikian rupa. Itu dosa. Katanya.

Dan bagaimana dengan kita?

Berbeda iman, berbeda kepercayaan, tetapi 'bukan' kita berdua yang menjalani kisah cinta itu.

Hanya aku.

Hanya aku yang menjalaninya.

Apakah itu tetap dosa namanya?

Mencintai bayangan. Dan bayangan itu selalu menjauh saat aku berusaha untuk menangkapnya.

Tidak bisa. Sudah kukejar. Sudah kutunggu agar bayangan itu datang kepadaku dengan sendirinya. Tapi tetap tidak bisa. Ia tidak pernah datang.

Dibawah bayang-bayang seseorang, aku menunggunya. Tidak lagi berusaha menangkapnya. Akan aku biarkan bayangan ini lepas. Bebas mengarungi dunia. Dan saat bayangan ini mulai lelah dan kembali, yang kutahu hanya satu. Bayangan ini telah memilih. Dan yang akan kulakukan hanya satu. Menerima bayangan ini kembali dengan penuh sukacita.

Friday, 31 August 2012

Kamu

4 huruf. 2 suku kata. 1 kata.
Tetapi memiliki daya magis yang luar biasa.
Sebuah kata yang entah bagaimana bisa membuat dunia khayal runtuh seketika,
lalu kembali kokoh saat membayangkan senyum yang biasa saja,
tetapi mampu membuat dunia khayal menjadi utuh seperti sedia kala.
Sebuah kata yang selalu digumamkan tanpa sadar dan mampu menimbulkan kepingan-kepingan memori di dalam kepala.
Sebuah kata yang yang mampu mencairkan suasana,
laksana mentari yang selalu menyinari dunia.
Dan kata itu kembali aku gumamkan tanpa jeda.
Kamu.
Itulah kata magisnya.

Friday, 10 August 2012

Time Goes So Fast


Hai! Sekarang itu tanggal 10 Agustus. Dan tanggal 8 Agustus udah lewat dari 2 hari yang lalu. Udah saya bilang di beberapa postingan saya sebelumnya kalau tanggal 8 Agustus itu adalah hari yang cukup penting bagi saya.

Tanggal 8 Agustus adalah hari dimana--tepat 1 tahun saya kenal dan suka sama #A.

Ini harus dirayakan! :p atau seenggaknya harus di publish x) hehe

Dan saya juga bilang kalau saya akan membeberkan siapa itu #A. Dan juga foto-fotonya. Mengenai hal yang satu ini--mengenai foto terutama, saya masih belum bisa. Kayaknya terlalu gimana gitu kalau saya posting fotonya disini. Untuk annive saya yang ke 1 tahun, saya cuma bisa ngasih tau namanya doang ya. Pasti udah ada beberapa dari kalian yang tau nama asli si #A itu siapa, tapi.., untuk foto-fotonya, saya akan posting di annive saya yang ke-2, ke-3, atau di annive di tahun berikutnya :p

Oke, biar saya persingkat. Namanya Aaron Wang Zhao. Dia tidak tampan. Biasa saja. Tapi bagi saya, dialah yang tertampan. Sudah 1 tahun lamanya saya menyimpan perasaan ini padanya. Dan dia belum tahu sama sekali. Hanya beberapa teman saya yang tahu benar kalau saya sungguh menyukainya. Sudah banyak lembar-lembar kertas, tinta-tinta dan malam-malam yang saya habiskan untuknya. Menulis berpuluh-puluh puisi, memikirkannya sebelum saya terlelap, dan itu semua belum cukup untuk membuat ia benar-benar hadir di hadapan saya.

Entah cara apa yang bisa saya lakukan untuk membuatnya hadir disini--bersama saya.

Sudah 1 tahun. Time goes so fast, huh? Tapi tidak cukup cepat bagi saya untuk bisa mengungkapkan perasaan ini.

Saya harap kamu tahu, #A.

With love,
Bekasi, 10 Agustus 2012.