Showing posts with label Stories.. Show all posts
Showing posts with label Stories.. Show all posts

Saturday, 6 April 2013

Draft 2

Sudah hampir 5 bulan saya tidak menulis sesuatu tentang Aaron di sini. Dan sekarang saya kembali lagi.

Awalnya, saat itu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menyuruh saya dan teman-teman saya untuk menulis sebuah cerpen non-fiksi (kisah nyata). Dan saya bingung. Deadline yang hanya 1 minggu tidak mampu membuat saya untuk berpikir cerpen apa yang harus saya tulis.

Lalu saya memutuskan untuk menulis tentang Aaron. Dan ternyata kurang dari kurun waktu 1 jam, cerpen saya sudah selesai. Atas permintaan seorang teman, saya akan mempublish cerpen itu.



Jatuh Ke Sebuah Lubang


Jatuh cinta itu lumrah. Manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalamai apa yang namanya jatuh cinta. Saya juga pernah, beberapa kali. Meski saya sendiri juga tidak tahu apakah saya benar-benar jatuh cinta pada saat itu.

Bagi sebagian orang, makna cinta itu ambigu. Saya sendiri beranggapan kalau cinta itu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Sesuatu yang harus dikejar, sesuatu yang  pantas untuk dimiliki. Semua orang berhak jatuh cinta, bahkan seluruh komponen semesta alam ini berhak merasakan cinta dan kasih sayang.

Pembicaraan absurd baru saja terjadi tadi siang saat teman saya—Revin namanya, berkata, “Nih, ya gue kasih satu pernyataan. Elo setuju apa enggak. Bentar,” teman saya menulis sesuatu di buku catatannya lalu ia memberikan catatan itu pada saya. Saya membacanya.

Di lembar itu tertulis, “Cinta tidak harus memiliki.” Saya mengernyit. Nyaris tertawa. Saya berkata pada teman saya itu,

“Ya enggak setuju, lah,” kata saya. “kalo cinta nggak harus memiliki, gimana kita bisa mencintai? Cinta itu kan sesuatu yang harus diperjuangin.”

Teman saya mengangguk. Saya melanjutkan lagi, “Orang kata Pak Mario Teguh aja cinta itu harus memiliki, kok. Kalo nggak memiliki itu bukan cinta namanya.”

Teman saya kembali menuliskan sesuatu lagi tepat di bawah kalimat ‘cinta tidak harus memiliki’. Ia menulis, “Orang yang putus asa.”

Saya mengernyit lagi. Teman saya lalu menunjuk kalimat ‘orang yang putus asa’ dengan ujung pensilnya. “Kalo ada yang beranggapan bahwa cinta itu nggak harus memiliki, itu tandanya orang itu adalah orang yang putus asa.”

Saya menaikkan kedua alis saya dan mengangguk. Lalu saya tertawa.

Saya setuju dengan pernyataan yang seperti itu karena sesuatu yang bernama cinta itu memang berhak untuk diperjuangkan. Dan harus memiliki satu sama lain.

***

Saya sudah berulang kali jatuh ke dalam lubang yang sama. Lubang yang dinamai ‘cinta’ oleh beberapa orang.
Saya pernah membaca kutipan di internet seperti ini,

Dig a hole, named it love, watch them fall in love.

Menggali lubang, menamainya cinta, melihat mereka jatuh ke dalam cinta.

Dan saya sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang itu.

Namanya Aaron. Dia tinggal sekitar 5.250 kilometer dari sini. Tepatnya, dia tinggal di Australia.Sebuah jejaring sosial yang mempertemukan kami—atau sepertinya saya yang menemukan dia. Dia berwajah oriental. Ayah dan ibunya merupakan orang Tionghoa. Dan seperti perawakan orang Tionghoa pada umunya, Aaron memiliki kedua mata yang sipit, tulang hidung yang tajam, rahang yang keras, alis yang menipis di ujung dan menebal di pangkal.

Dan senyumnya. Senyum yang menurut saya dapat mencairkan glester es di laut arktik sekalipun.
Saya bertemu dengannya—atau lebih tepatnya mengenalnya sekitar 2 tahun lalu. Tanggal 8 Agustus 2011. Dan seketika hidup saya berubah hampir 180 derajat. Saya menjadi seseorang yang bukan saya. Saya menjadi lebih suka berlama-lama di depan PC saya sambil memandangi fotonya, saya menjadi lebih suka menulis berlembar-lembar sajak dan puisi dan saya menjadi seseorang yang melankolis.

Ini aneh. Saya sudah berkali-kali jatuh ke dalam lubang yang sama tapi saya tidak pernah jatuh sampai sedalam ini. Saya tidak tahu apa namanya tapi selalu ada sesuatu yang memaksa saya untuk menarik kedua sudut bibir saya hingga membentuk sebuah lengkung senyuman saat saya berpikir tentang dia.

Ini benar-benar aneh.

Saya bahkan tidak pernah berpikir kalau saya bisa jatuh cinta—atau apalah namanya—sampai seperti ini.  Jadi saya hanya membiarkannya. Barangkali seiring berjalannya waktu perasaan ini akan terkikis dengan segera.

Mungkin. Saya juga tidak tahu.

Ada sebuah percakapan dengan seorang teman beberapa saat yang lalu. Pada waktu itu, PC saya diinstall ulang. Seluruh data-data milik saya mulai dari dokumen, foto sampai lagu hilang. Kecuali beberapa data yang sempat saya backup sebelumnya.

Lalu saya berkata pada teman saya melalui twitter, Rifat namanya. “Semua data di komputer gue ilang. Tapi untung alamat rumah sama nomer telfonnya Aaron nggak ilang. Sempet gue backup.”

Rifat berkata, setengah menyindir mungkin, “Dih, dasar orang aneh.”

Saya berkata, “Kok aneh sih? Bagus dong..”

Ujarnya lagi, “Iyalah. Kalo bagus itu file penting kayak tugas yang gak ilang. Lah ini malah alamat sama nomer telfon.. ”

“Aaron kan juga penting, Fat…..”

“Sepenting apa sih Aaron?” seperti disiram air es, saat itu juga otak saya mendadak tumpul. 

“*skak mat* *nggak bisa jawab*”

“Nggak bisa jawab, kan kenapa lo bilang Aaron penting? Wajib dijawab sekarang.”

Saya merasa seperti disiram berliter-liter air es lagi. “Ih Rifat……”
“Coba jawab aja,” katanya lagi—defensif.

“Ini….. susah..” saya bingung menemukan kata-kata yang tepat. “Aaron penting ya karna dia penting. Seenggaknya buat gue dan buat sekarang. For the present.”

Jujur, saya kurang menyukai percakapan yang memojokkan seperti ini.

Rifat berkata lagi, “Emang Aaron pernah ngasih lo apa?”

“Harapan. Sayangnya harapan yang jawabannya nggak dateng-dateng.”

“Dan itu lo anggap penting?”

“Ironisnya, iya.”

“Kenapa nggak mencoba berfikir kalo Aaron gak akan pernah ngasih harapan ke elo?”

Hahahahaha, speechless. Waktu itu saya benar-benar tidak tahu mau menjawab apa.

“Aduh, nggak tau ya. Ini tuh kayak air. Ngalir gitu aja.. buat ke depannya ya kita liat aja nanti.”

“Terus lo maunya ngelupain Aaron apa tetep suka sama Aaron?”

“Tetep suka!!”

“Finally you always answer that, ”

“I do and I will.”

Saat saya menjawab “tetep suka” atas pertanyaan Rifat itu, saya merasa tidak yakin.

Apakah saya akan tetap menyukainya? Maksudnya jika suatu saat nanti perasaan itu akan segera terkikis, apakah saya akan tetap menyukainya?

Entahlah.

***


Monday, 17 December 2012

Hujan Desember

"This is bull." erang Nadine. Kedua matanya memerah. Ia menopangkan kedua tangan di dagunya. Berpikir keras. "Ash, gimana, dong?"

Ashqa yang sedang berjalan menghampiri tempat duduk Nadine sambil membawa croissant dan dua gelas earl grey melongo. "Apanya?"

"He asks me to go.., tonight. I just wonder if he does have brain." Nadine memijat pelipisnya. Ashqa tertawa lalu duduk di hadapan Nadine.

"Santai, Dine. Mungkin dia cuma mau menyelesaikan masalah yang belum selesai. Who knows? I mean, mungkin dia sudah berubah." ujar Ashqa sambil memotong bagian croissant-nya.

Nadine menggedikan kedua bahunya. Meraih telinga cangkir earl grey-nya lalu menyesapnya perlahan. "Hei, Ashqa. Yudha pulang hari ini, kan?"

Ashqa menatap Nadine lalu mengangguk. Raut wajahnya berubah. "Iya. He texted me. Katanya pesawat delay. Mungkin Maghrib baru sampai sini. Gue nggak tahu..." Ashqa tertawa.

Hari ini, Yudha Fatar Ariffian-- Semua orang memanggilnya Yudha atau Arif tetapi Ashqa lebih suka memanggilnya Fatar--kekasih Ashqa kembali ke Jakarta. Ia sedang meraih gelar sarjana hukum di UGM. Sudah 4 bulan Ashqa tidak melihat Fatar. Selama ini mereka hanya dipertemukan lewat Skype dan Ashqa belum puas.

"Nanti mau jemput dia? Atau gimana?" tanya Nadine. Ashqa mengangguk lagi.

"Gue mau jemput dia. Udah lama juga nggak ketemu. Mau ikut sekalian? Kali aja Fatar juga kangen sama Nadine. Siapa tahu?" Kali ini gantian Nadine yang tertawa.

"Memang gue siapanya Yudha?" tanya Nadine di sela tawanya. "Um, mungkin lain kali. Hari ini banyak kerjaan. Tapi janji, ya, kapan-kapan ajak dia makan siang bareng."

"Sure." ujar Ashqa tersenyum. "Eh, Nad. Duluan, ya. Takut macet. See you tomorrow." Ashqa melangkah keluar dari dalam cafetaria. Ia mendengar Nadine berkata setengah berteriak,

"Take care, Hun."

***

Bandara petang itu sangat ramai. Banyak orang berlalu-lalang di terminal kedatangan. Ashqa mengedarkan pandangan ke seluruh bagian terminal. Tidak menemukan yang ia cari, Ashqa segera menepi dari kerumunan dan menelepon seseorang. Fatar. Tersambung. Dering pertama, kedua, ketiga sampai dering kesepuluh tak ada jawaban.

Nyaris putus asa, Ashqa mencoba lagi. Dering pertama, dering kedua, dan di dering ketiga terdengar suara berat dari seberang sana.

"Fatar? Fatar di mana? Aku lagi di..., eh bentar, bentar.., aku lagi di depan Burger King. Fatar kesini aja. Aku tunggu....., halo--Fatar? Aduh nyambung nggak, sih? Kok nggak dijawab...? Fat-....." Ashqa mendengus saat sambungan teleponnya terputus - atau entah Fatar sendiri yang memutusnya.

Ashqa kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat Ashqa ingin beranjak pergi, seseorang menahan lengannya. Ashqa menoleh. Matanya melebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebersit keharuan terpancar dari sinar matanya.

"Fatar?"

***

Saat keluar dari terminal kedatangan, Fatar sudah menangkap sosok gadis itu. Dengan rambut hitam lurus sepunggung dan poni yang dijepit begitu saja ke atas dan menyisakan beberapa helai di dahinya. Di dalam balutan blouse berwarna putih yang dimasukkan ke dalam rok selutut berwarna cokelat dan sepatu flat berwarna cokelat tua.

Gadis itu menepi keluar dari kerumunan orang-orang di dalam terminal. Gadis itu meraih ponsel dan menempelkannya di telinga. Gadis itu terlihat bingung. Ia mengigit bibir. Lalu berusaha menelepon sekali lagi.

Fatar tersadar. Gadis itu berusaha meneleponnya. Fatar merogoh saku kemejanya. Ponselnya bergetar. Benar saja. Ashqa calling. Fatar menekan tombol answer. Berkata 'halo' lalu sedetik kemudian suara gadis itu menggema di kedua telinganya. Ada kerinduan di dalam suara itu. Dan Fatar tahu - bahkan selalu tahu. Kedua sudut bibir Fatar terangkat. Ia tidak menanggapi celotehan gadis itu. Ia hanya tersenyum sambil berjalan menemui gadis itu. Fatar merindukan gadis itu. Gadis yang bernama Ashqa.

Kini Fatar sudah berdiri tepat di belakang Ashqa yang memunggunginya. Fatar memutuskan sambungan telepon. Ia bisa mendengar gadis itu berkata sesuatu yang berupa gerutuan. Saat gadis itu hendak berjalan pergi, Fatar menahan lengannya. Gadis itu menoleh. Matanya melebar tidak percaya. Ada sebersit kerinduan di matanya.

"Fatar?" bisik gadis itu lirih.

"Hey, I'm back." bisik Fatar. Ashqa masih terdiam di tempatnya berdiri. Sebelah tangannya masih  berada di dalam genggaman Fatar.

Ashqa berusaha melepaskan genggaman tangannya dari genggaman tangan Fatar yang tidak seberapa kencang itu. Ashqa menatap Fatar nanar. "Welcome back." bisiknya getir. Fatar segera merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Fatar bisa merasakan bahunya mulai basah. Ashqa menangis. Fatar tahu karena sejak tadi gadis itu berusaha keras menahan tangis. Lalu Fatar mengelus punggung Ashqa yang gemetar hebat.

"It's okay. Jangan nangis, dong. Aku maunya disambut dengan senyum. Bukan tangisan. Ashqa..," pelukan Ashqa mulai mengendur. Fatar tahu Ashqa tidak menginginkannya. Fatar tahu Ashqa ingin tetap memeluk Fatar. Dan Fatar juga ingin tetap memeluk Ashqa.

"Sekarang, hapus air matanya." Fatar menyodorkan saputangan berwarna putih dan bermotif garis-garis kepada Ashqa.

"Ashqa mau makan dulu?" tanya Fatar setelah tangis Ashqa mulai mereda.

Ashqa mengangguk. "Tapi nggak di sini. Nggak apa-apa, kan?"

Fatar tersenyum sambil mengelus kepala Ashqa. "Terserah Ashqa. Ashqa 'kan tau sendiri aku doyan makan. Jadi nggak masalah."

"Fatar suka makan tapi nggak gemuk-gemuk. Curang." sungut Ashqa. Fatar tertawa mendengar gadisnya merengut.

Fatar melirik jam tangannya. Lalu kembali menoleh pada Ashqa. "Shalat Maghrib dulu, yuk. Takut nggak sempat."

Ashqa melirik ke arah jam tangannya lalu mengangguk. "Aku lagi nggak shalat. Tuh, di sana ada mushallah." Fatar mengangguk lalu segera berjalan ke arah mushallah itu. Mushallah itu sepi. Hanya ada segelintir orang di dalamnya. Ashqa duduk di bagian depan mushallah.

"Aku titip, ya." Fatar menaruh ransel dan kopornya di samping tempat duduk Ashqa. Ashqa mengangguk. Ia memperhatikan Fatar yang sedang mengambil air wudhu di pojok mushallah.

Ashqa menghela nafas. Ponselnya bergetar. Dari Nadine.

Hei! Udah ketemu Yudha? Ashqa membalas, udah.dia lagi shalat. mau titip salam? kurang dari 30 detik, ponsel Ashqa bergetar lagi. make sure you will. ajak dia makan siang bareng dong. Ashqa tersenyum. Lalu membalas lagi, i will, Nad. thanks for being such a good friend.

Saat Ashqa selesai membalas pesan dari Nadine, Ashqa melihat Fatar sedang berjalan menghampirinya.

"Fatar, tadi Nadine nitip salam buat Fatar. Terus dia ngajak kita makan siang besok."

Fatar tersenyum sambil mengenakan Converse-nya. "Sounds good. Tapi aku juga lapar sekarang. Yuk." Fatar berdiri. Meraih ransel dan kopornya di sisi bangku. Ashqa ikut berdiri. Ashqa menggenggam sebelah tangan Fatar yang bebas.

***

"Fatar, aneh nggak, sih. Cuma aku satu-satunya yang manggil kamu Fatar. Padahal yang lain manggil kamu Yudha atau Arif. Bahkan Bunda manggil kamu Yudha. Keluarga kamu juga, kan?"

Fatar tertawa. "Memangnya Ashqa nggak suka manggil aku Fatar? Lagipula aku seneng, kok. Cuma Ashqa satu-satunya yang manggil aku Fatar. It makes you special, you know." Ashqa tersenyum dan menunduk.

"Ngomong-ngomong, kita mau makan di mana?" tanya Fatar sambil memperhatikan argo taksi yang semakin naik.

"Di rumah. Bunda masak spesial. Bunda tau kalau Fatar pulang hari ini. Jadi Bunda mau ngerayain kepulangan Fatar ke Jakarta."

"Yang benar? Wow, I should thank much to Bunda, then." Fatar tertawa. "Eh, tapi ke rumah aku dulu, ya.  Mau ngambil mobil. Jadi nanti aku pulangnya gampang. Aku juga belum ketemu Papa sama Adit."

"Yaudah, nggak apa-apa, kok." Ashqa menoleh ke arah Fatar. Tersenyum. Lalu pandangannya beralih ke luar jendela.

"Hey, it starts to drizzling. Hujan pertama di bulan Desember.." sahut Ashqa riang. Ia kembali menatap Fatar. Sedikit memiringkan kepalanya. "Kenapa?"

Fatar menggeleng. "No," ujarnya. "Kamu suka hujan. Dan aku suka itu."

"The way I love rain...? Or the way I love you?" ujar Ashqa tertawa.

"Both." Jawab Fatar singkat. Ashqa mengangguk. Jawaban seperti itu saja sudah cukup. Ia menyandarkan kepalanya di sebelah bahu Fatar. Memperhatikan jalanan yang basah karena rintik hujan.

Ashqa akan sangat merindukan Fatar. Sekarang, nanti dan selamanya. Juga hujan pertama di bulan Desember ini. Itu pasti.

***

Tuesday, 4 December 2012

Djenar


Warna oranye kemerahan tergurat di atas kanvas langit. Sekumpulan burung gereja berterbangan—mencari jalan pulang. Sesekali beberapa ekor bertengger di ranting-ranting pohon, menyaksikan betapa menakjubkannya warna langit kala itu.

Djenar, seorang gadis berusia pertengahan 20-an sedang berdiri di tepi atap gedung kantor tepat ia bekerja. Sendiri. Memandang ke bawah dengan tatapan yang kosong. Sekosong hatinya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia merogoh ponselnya dari saku blazer yang ia kenakan. Sebuah pesan singkat.

‘dimana?’

Djenar menghela nafas panjang. Ia bisa merasakan nafasnya yang dingin. Pesan itu dari Damar. Teman satu kantornya. Djenar menarikan jemarinya yang lentik di atas screen ponselnya.

‘di atas.’

Tak perlu berbasa-basi. Damar tahu ‘atas’ mana yang dimaksud Djenar. Atap gedung kantornya. Hanya dalam hitungan menit, Damar sudah tiba dan berdiri di samping Djenar.

“Nggak pulang? Ngopi dulu, yuk. Nanti pulangnya saya anterin.” Ujar Damar ceria.

Djenar menoleh dan tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan.

“Kenapa? Biasanya kamu paling suka kalau saya traktir minum kopi.” Damar terkekeh. Tidak melihat respon yang diberikan Djenar, Damar berkata lagi, “Kali ini kamu yang milih tempatnya, deh. Saya nurut aja.”

Djenar menunduk. Ia kembali merogoh saku blazernya. Mengeluarkan sesuatu. Sebuah bungkus rokok dan pematik apinya. Djenar menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya yang tipis kebiruan karena diterpa angin sore. Ia mematik api dari pematiknya. Sekarang, ujung rokok itu sudah terhias dengan warna oranye menyala.

Damar yang masih berdiri di tempatnya terpaku.

“Dje, you don’t…”

Well now I do.” Ujar Djenar.

“Sejak kapan? Bukannya kamu pernah bilang sama saya kalau kamu itu paling anti sama yang namanya rokok..?” Tanya Damar masih tak percaya.

People change, Mar. They do it all the time. Apa salahnya kalau saya merokok?” jawab Djenar sambil mengepulkan asap rokok keluar dari mulutnya.

Damar kembali terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa.

“Ini.., sekarang kita berada di lantai berapa sih, Mar? Kok kayaknya tinggi banget, ya?” Djenar maju selangkah dan memperhatikan kegiatan yang sedang berlalu-lalang di bawah sana.

Tubuh Damar menegang. Ia menjawab takut-takut.

“10.” Suaranya terdengar tercekat. Djenar hanya mengangguk-angguk kecil.

“Kalau misalkan saya…,”

“Jangan!”

Djenar menoleh. Damar mendekati Djenar dengan dada yang membuncah. Entah apa yang sedang berguncang hebat di dalam dadanya itu.

“Nggak boleh.” Ulang Damar. “Saya tahu kamu mau bicara apa tadi. Apapun itu, please jangan.”

Djenar mengerjap pelan. Ia menatap Damar tepat di matanya. Djenar mengalihkan pandangannya dari Damar dan tertawa.

“Ternyata kamu tahu saya banget ya, Mar.” ujarnya masih tertawa kecil.

Kali ini giliran Damar yang mengerjap pelan.

“Tapi ngomong-ngomong, saya pernah baca buku. Dan di bukunya itu ada kutipan ‘setiap orang pasti sudah menerima hukuman mati. Tapi mereka masih belum tahu kapan mereka akan menjalaninya.’ Pernah denger kan, Mar? Eh, belum, ya? Makanya jangan baca buku pengantar bisnis mulu, dong..” ujar Djenar tertawa.

Tawa milik Djenar seperti menghipnotis. Damar dibuat tertawa oleh perkataan milik Djenar tadi.

“Tapi kalau dipikir-pikir, itu benar kan, Mar? Saya jadi penasaran nanti saya meninggalnya bagaimana.” gumam Djenar.

Damar masih menatap Djenar nanar. Ia masih terhipnotis dengan pesona Djenar. Rambutnya yang hitam berkilau saat terpantul oleh sinar matahari, matanya yang kecil, alisnya yang tebal, bibirnya yang tipis.., ingin rasanya Damar memiliki segalanya yang ada pada Djenar.

“Dje, listen.” Ujar Damar tegas. Djenar menoleh dan mengangkat kedua alisnya. Sebatang rokok terselip di antara kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Kalau kamu meninggal, itu urusan nanti, okay? Sekarang janji sama saya. Janji kalau apapun yang terjadi, jangan pernah berpikiran untuk meninggal. Kamu sendiri yang bilang kalau semua orang itu pasti meninggal. Iya, kan? Jangan menghampiri kematian. Dia akan menghampiri kita—dengan sendirinya.”

Djenar menatap Damar. Ia tidak tahu apa yang pria itu pikirkan, tapi..

“Dje, masih banyak yang peduli sama kamu. Jadi tolong..,”

“Mar, now you listen. I’ll be fine, okay? Saya akan baik-baik saja. Sungguh—demi Tuhan, Mar. Kalau suatu hari nanti kamu menemukan saya dalam keadaan mati konyol, kamu boleh mengutuk saya apa saja. Saya juga punya akal sehat, Mar. Jadi saya tidak mungkin menyiakan sisa hidup saya dan mengakhirinya dengan cara-cara konyol yang tidak masuk akal.”

Damar tertawa. “Contohnya? Cara konyol yang tidak masuk akal itu contohnya seperti apa?”

Djenar tersenyum jahil dan pura-pura berpikir. “Mm, menghabiskan sisa hidup untuk membenci kamu, mungkin?”

Tubuh Damar kembali menegang. Ia memperhatikan Djenar yang sedang menyulut api rokoknya dengan cara menginjak dengan ujung sepatunya. Saat Djenar mendongak, tatapan mereka berdua bertemu.

“Apa?” Tanya Djenar.

Damar melangkah maju menhampiri Djenar dan merengkuhnya perlahan. Djenar tersentak oleh tindakan Damar yang tiba-tiba itu.

“Da..mar..?” Damar semakin mempererat pelukannya. Ia bisa merasakan jantung Djenar beradu cepat dengan jantung miliknya.

Djenar tenggelam dalam pelukan Damar. Mereka terus seperti itu selama beberapa menit. Tak ada yang bersuara. Lalu Djenar memperlonggar rengkuhan tangan miliknya di sekitar leher Damar. Damar menunduk menatap Djenar tepat di mata dan menaikkan kedua alisnya.

“Tawaran kamu.. Tawaran kamu yang tadi masih berlaku? Err.., minum kopi? Kayaknya malam-malam begini kalau ditemani kopi enak juga,” gumam Djenar.

Damar tersenyum. Lalu berkata dengan nada sedikit memberengut.

“Hanya kalau ditemani kopi saja enaknya? Sama saya enggak?”

Djenar tertawa dan memukul dada Damar pelan. Djenar kembali merengkuhkan kedua tangannya di sekitar leher Damar dan kembali perpelukan selama beberapa menit.

“Yuk. Saya haus.” Ujar Damar sambil memperlonggar pelukannya. Djenar tertawa dan menyelipkan lengannya di antara lengan milik Damar. Mereka berdua berjalan di bawah sinar rembulan dan kerlipan bintang.

Tidak ada yang lebih indah dari malam ini, pikir Djenar dan Damar dalam hati.


***

Thursday, 18 October 2012

Fajar dan Jingga

Saya selalu bertemu dengannya dimana-mana. Di koridor, di cafetaria, di halte, di perpustakaan. Dia tidak melihat saya—mungkin. Tapi saya melihatnya dan ia selalu terlihat sibuk dengan buku-buku yang selalu memenuhi kedua tangannya yang mungil. Sebenarnya saya tidak tega. Ingin rasanya saya menghampiri dan membantunya membawa buku-buku itu. Tapi rasanya saya tidak bisa. Kaki saya seperti terpasung.

Suatu ketika, sehabis bertarung dengan hipotesa-hipotesa sialan yang diberikan oleh dosen, saya pergi ke cafetaria. Sekadar membeli minuman dan sepiring nasi untuk mengganjal perut yang sudah meraung-raung untuk diisi. Dan saya melihatnya, lagi. Bagai sebuah penyejuk di gersangnya gurun kehidupan saya, saya merasa seperti hidup kembali. Semua perasaan kesal saya pun ikut hilang. Dia duduk di pojok cafetaria. Masih dengan buku-buku tebal yang entah bercerita tentang apa. Ia sedang membaca. Ia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia bahkan tidak merasa terusik dengan suara menggelegar sekelompok gadis-gadis yang sedang bergosip di sebelahnya. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran saya. Hampir satu menit penuh saya berdiri memandangnya di dalam pintu cafetaria. Entah saya yang terlalu berlebihan—sampai memandanginya seperi itu atau memang ia adalah seorang gadis yang luar biasa sampai-sampai saya memandanginya seperti itu?

***

Hari ini hari Minggu. Saya terbebas dari mata kuliah yang seakan-akan ingin membunuh saya. Dan hari ini saya berniat untuk bermeditasi di dalam rumah sepanjang hari. Saat itu pukul dua siang saat saya sedang dengan nikmatnya menyantap beberapa seri komik manga terbaru kesukaan saya. Lalu tiba-tiba ponsel saya berdering menandakan adanya pesan singkat yang masuk. Dari teman saya. Dia menyuruh saya untuk menemaninya ke distro milik keluarganya untuk memeriksa beberapa item yang baru datang. Tadinya saya ingin menolak. Tapi tidak jadi. Saya mengiyakan ajakannya.

Sinar matahari begitu terik sampai-sampai saya harus menghalaunya menggunakan sebelah tangan. Saya baru ingin masuk kedalam distro milik keluarga teman saya itu sampai sebuah suara dentuman keras menyita perhatian saya. Para warga yang berada di dekat situ langsung berlari berhamburan menuju suara dentuman itu berasal. Ada yang ketabrak, katanya. Perempuan. Kayaknya masih kuliah. Teman saya berlari kecil ke kerumunan warga yang sedang melingkari sesuatu. Mungkin sedang mengerumuni korbannya, pikir saya. Saya tidak ikut masuk kedalam kerumunan itu. Terlalu pengap. Lalu mata saya tiba-tiba tertuju pada suatu hamparan di dekat kerumunan warga. Beberapa buah buku yang terhampar. 

Buku-buku yang saya kenal. 

Keringat dingin mulai mengucuri dahi saya. Saya tidak mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sedang saya pikirkan saat ini. Saya berusaha untuk berpikir dengan jernih dan menepisnya, tetapi tidak bisa. Lalu akhirnya teman saya keluar dari kerumunan itu dan menghampiri saya.

Udah meninggal. Nggak bisa ditolong lagi. Katanya tabrak lari. Muka korbannya familiar banget. Dia satu kampus sama kita.

Demi Tuhan, bukan itu yang ingin saya dengar!

Jantung saya berdegup kencang. Saya memberanikan diri menerobos masuk ke dalam kerumunan warga. Tidak memperdulikan betapa pengapnya dan kurangnya asupan oksigen yang saya dapat di dalam kerumunan itu. Saya tercekat. Ternyata dugaan saya benar. Kemungkinan-kemungkinan aneh yang saya pikirkan tadi ternyata benar.

***

Belakangan ini saya mengetahui namanya. Jingga.

Gadis luar biasa itu, gadis yang bernama Jingga, gadis yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, gadis yang selalu memenuhi kedua tangannya yang mungil dengan buku-buku tebal itu, gadis yang selalu saya temui di koridor, cafetaria, halte dan perpustakaan, gadis yang mampu menyita pandangan saya selama satu menit penuh, gadis yang tidak pernah menyadari kehadiran saya itu..,

Kini sudah tidak ada lagi jingga yang seperti itu. Karena sekarang Jingga sudah padam ditelan oleh gelapnya malam.

Saya menemui suatu hubungan dalam nama kami berdua. Fajar dan Jingga. Fajar yang telah padam ditelan oleh Jingga dan Jingga yang sudah padam karena tertelan habis oleh kelamnya malam.

Karena sesungguhnya tidak akan pernah ada Jingga sebelum Fajar dan tidak akan pernah ada Fajar sebelum Jingga dan kelamnya malam.

Monday, 15 October 2012

Kopi


“Sejak kapan kau mulai tergila-gila dengan kopi?” 

“Sejak aku kecil, mungkin? Entahlah. Mungkin saat aku berumur 15 tahun.” 

“Kau bercanda? Berapa cangkir kopi yang sudah kau minum hari ini?” 

“Sekitar 4 atau 5 gelas..? Ah, sudahlah. Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah bahwa aku menyukai kopi. Itu saja.” 

***

Sky berdiri di depan sebuah gerai kopi di sudut kota. Ia menatap kedalam gerai. Kakinya seperti tertahan oleh sesuatu. Ia tidak bisa bergerak. Tapi keinginannya untuk menyesap secangkir kopi sangatlah besar. Ia melirik jam tangannya. Masih pukul delapan. Belum terlalu larut untuk mampir sebentar.

“Kau tahu, sulit rasanya menghentikan suatu kebiasaan yang sudah kita lakukan sejak lama.” Sky menoleh ke arah suara. Seorang pria dengan kemeja biru sedang berdiri di sebelahnya.

Sky mengangguk dan menghela nafas panjang. “Kau benar. Did Karin tell you?

Kali ini gantian pria itu yang mengangguk. “Iya. Karin memberitahuku tadi.”

“Baiklah,” Sky memutar badannya sehingga ia dan pria itu berdiri berhadapan. “Aku harus pulang sekarang. Aku duluan.” Sky berubah pikiran. Ia tidak jadi mampir ke gerai kopi itu. Bisa gawat urusannya jika pria ini memberitahu Karin nanti. Sky lalu berbalik dan pergi meninggalkan pria itu.

“Hei, Sky. Kau tidak usah memaksakan diri.” Seru pria itu dari kejauhan. Sky menoleh dan tertawa. Lalu ia mengepalkan sebelah tangannya ke udara. Pria itu balas mengepalkan sebelah tangannya juga.

***

Sky butuh kopi. Apa yang bisa ia lakukan tanpa kopi? Oh, astaga. Tapi ia tidak ingin penyakit gastritis ini semakin menyerangnya. Gastritis memang bukan penyakit yang berbahaya—setidaknya itu yang dokter katakan. Tapi Sky tidak pernah merasa baik-baik saja saat penyakit musiman itu melandanya. Kurangi kafein, katanya. Hindari stres yang berlebihan, katanya. Banyak makan-makanan berkabohidrat, katanya. Katanya, katanya, katanya.

Pukul sebelas malam. Layar ponselnya berkedip. Ada sebuah pesan masuk. Dari Karin.

Hanya pesan singkat biasa. Karin hanya menyuruhnya untuk beristirahat yang cukup. Tidak ada secangkir kopi lagi untuk hari ini. Sky mendengus. Ia melempar ponselnya ke ranjang, berjalan ke dapur, mengambil satu kotak besar es krim dan melahapnya dalam porsi besar.



“Sky!” Sky mendongak. Ia menyipitkan matanya dan melihat seorang pria menghampirinya.

Hey. Have a seat.” Sky mempersilakan pria itu untuk duduk di hadapannya dan ia kembali mengaduk-ngaduk cangkir kopinya.

“Apa yang kau minum? Kopi? Bagaimana kalau Karin melihat ini?” tanyanya. Sky tertawa kecil.

“Tidak apa-apa. Lagipula aku belum minum kopi tadi pagi.”

“Sebenarnya, apa gastritis itu parah? Separah apa?” Sky mendongak lagi dan tatapan mereka berdua bertemu. Lalu Sky buru-buru mengalihkan pandangannya.

“Tidak terlalu parah. Kau hanya merasakan suatu manuver di dalam perutmu. Lalu akhirnya cairan keruh itu keluar—jangan tanya apa karena aku tahu kau sudah bisa menebaknya.” Pria itu tertawa. “Lalu kau akan merasa baikan. Tapi tiba-tiba manuver itu terjadi lagi. Padahal perutmu sudah terasa kosong. Sudah tidak ada lagi yang bisa kau keluarkan tapi tetap, cairan keruh itu keluar lagi. Dan akan tetap begini sampai kau mengimbanginya dengan karbohidrat.” Sky menyesap kopinya. Tapi pria itu masih memperhatikan gerak-gerik Sky.

“Tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Sungguh. Kata dokter penyakit ini tidak parah. Dan aku hanya disuruh untuk mengurangi asupan kafein.”

“Kau tahu, dulu aku perokok berat.” Kali ini giliran Sky yang menatapnya tidak percaya.

“Benarkah?” Pria itu tersenyum melihat gestur tubuh Sky yang penasaran.

“Ya. Dan aku berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan itu. Aku bahkan sampai mengunyah permen karet tiap kali aku ingin merokok. Lucu, ya? Tapi sekarang aku sudah bersih. Aku sama sekali tidak merokok barang satu hisap pun.” Ujar pria itu. Lalu mereka berdua terdiam.

“Aku tidak tahu apa aku bisa mengurangi asupan kafein dalam sehari.” Ujar Sky rendah.

“Kenapa tidak?” tanya pria itu.

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Semua bisa jika ada kemauan dari diri kita masing-masing.”

“Masalahnya,” Sky menggigit bibirnya. “Masalahnya, bagaimana kau bisa berubah kalau dirimu sendiri tidak mengizinkan kau untuk berubah? Bagaimana aku bisa berubah jika diriku sendiri menolak dengan adanya perubahan dan bagaimana aku bisa berubah kalau aku sendiri tidak punya kemauan untuk berubah?”

Pria itu tertegun. Baik ia dan Sky sama-sama tidak bisa menjawab. Waktu rasanya seperti berhenti. Hanya kepulan asap kopi yang bergerak. Bergerak dalam diam dan akhirnya menguap begitu saja di udara. Seakan menjawab pertanyaan mereka berdua.

Friday, 28 September 2012

(Mungkin) Harusnya



Lotso! Kamu harusnya kan ada di film Toy Story 3. Kenapa kamu malah ada di film Up?

Lotso. Dia tiba-tiba nyangsang di film Up. Itu bukan tempatnya Lotso. Lotso harusnya ada di film Toy Story 3. Lotso, kamu salah alamat!

Sama kayak saya. (Mungkin) Harusnya saya nggak tinggal disini.

(Mungkin) Harusnya saya tinggal sama kamu di Benua Kangguru sana.

Melewati hari demi hari bersama-sama, duduk di bangku taman berdua sambil menunggu terbenamnya matahari.

Meniti tiap detil perasaan ini. Merajut perasaan ini yang mulai dari sehelai—lalu menjadi  selembar. Berdua. Bersama-sama.

(Mungkin) Harusnya saya yang menemani kamu.

(Mungkin) Harusnya saya yang duduk di sebelah kamu.

(Mungkin) Harusnya saya yang membantu kamu berdiri waktu kamu jatuh.

(Mungkin) Harusnya saya yang berada disana—memberi applause waktu kamu selesai memainkan jari-jari kamu diatas tuts-tuts piano itu.

(Mungkin) Harusnya saya yang merasakan adanya energi cinta dari setiap ucapan dan tindakan kamu.

(Mungkin) Harusnya saya sosok yang pertama kali akan kamu lihat saat kamu bangun pagi di tempat tidur.

(Mungkin) Harusnya saya yang membuat sarapan dan bercangkir-cangkir kopi untuk kamu setiap pagi.

(Mungkin) Harusnya saya yang jadi wanita masa depan kamu.

Ah, sepertinya saya salah alamat. (Mungkin) Harusnya saya sekarang ada disamping kamu, kan? Menyandarkan kepala di bahu kamu, menyesap kopi itu. Di malam musim semi. Terus begini. Sampai musim semi bepuluh-puluh tahun berikutnya.

Tolong, rindu ini sudah tidak tersematkan lagi.

Doraemon, mana mesin waktunya?

Saturday, 15 September 2012

Ditengah Atmosfir Australia #5

Claudie dan Jonathan sudah tiba di depan rumah bergaya vintage yang didominasi dengan warna coklat kayu dan ditumbuhi banyak pohon rindang. Beberapa ekor burung sedang bertengger di salah satu ranting pohon dan bersiul dengan indahnya. Saling bersahutan dengan kicauan kawanannya yang lain.

"Nah, ayo masuk." ujar Paman George pada mereka berdua. Claudie dan Jonathan mengangguk dan mengikuti Paman George dari belakang. Begitu pintu depan terbuka, aroma masakan sudah tercium ke seluruh ruangan.

"Ellie, kita kedatangan tamu." Seru Paman George sambil melepas mantelnya lalu berlalu ke arah dapur. Claudie duduk di salah satu sofa besar di sudut ruangan dan pandangannya tidak beralih dari sebuah piano yang terletak di samping sofa yang ia duduki.

"Kau bisa bermain piano?" Claudie mendongak dan menyadari bahwa Jonathan sedang berdiri menjulang di hadapannya. Ia menggeleng. Menatap Jonathan sejenak lalu tatapannya kembali teralih ke piano tersebut. "Tidak? Aku bisa." Claudie menatap Jonathan dan mendengus.

"Dasar tukang pamer. Coba kau mainkan." ujarnya pada Jonathan. Jonathan menggedikan kedua bahunya dan ia mulai menekan tuts-tuts piano sambil mengguman tidak jelas. Ditariknya sebuah kursi kecil di hadapannya, ia duduk dan mulai mendaratkan jemari-jemari lentiknya di atas tuts-tuts piano.


Bright Eyes.


***

"Astaga, siapa yang sedang bermain piano itu? Jonathan? Kaukah itu?" Jonathan menoleh kearah suara itu dan bangkit dari kursi yang barusan ia duduki. Ia menghampiri dan memeluk seorang wanita tengah baya di hadapannya dengan erat. "Permainan pianomu bagus sekali. Dan, oh, siapa wanita itu? Perkenalkan dia padaku, Jonathan. Kau ini benar-benar tidak sopan."

"Oh, ya, aku lupa." Jonathan tertawa. "Die, kemarilah." Claudie menghampiri Jonathan, tersenyum dan menjabat tangan Bibi Ellie.

"Aku Claudie. Senang berkenalan dengan anda." Ujar Claudie.

"Aku juga senang berkenalan denganmu, young lady. Nah, bagaimana kalau kita makan sekarang? Aku rasa tamu-tamu kita sudah kelaparan. Bagimana menurutmu George?" tanya Bibi Ellie pada Paman George.

"Tentu saja, Ellie. Aku juga sudah lapar."

***

"Itu tadi merupakan bebek peking terenak yang pernah aku makan. Astaga, Bibimu sangat pandai memasak. Aku harus belajar padanya lain kali." Claudie dan Jonathan sedang duduk di teras rumah Paman George sambil memperhatikan ikan mas koi yang sedang berenang dengan lincah di kolam.

Hening. Hanya terdengar suara pancuran air dari kolam, jangkrik-jangkrik dan sesekali deru mesin kendaraan yang lewat di depan rumah.

"Aku punya ide," Claudie menoleh. Masuk ke kamarmu sekarang. Aku akan bicara pada Paman George sebentar. Claudie menurut saja dan segera masuk ke dalam kamar Luna yang sedang ditempatinya. Mengenai Luna dan Edward--anak Paman George dan Bibi Ellie, mereka berdua sudah menikah dan sudah mempunyai keluarga masing-masing. Jadi sekarang kamar mereka kosong. Biasanya pada akhir pekan mereka akan berkunjung ke rumah Paman George dan Bibi Ellie.

Saat Claudie berada di puncak tangga, ia melongokkan kepalanya kebawah untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana. Jonathan sedang berbicara kepada Paman George yang sedang menonton serial klasik di televisi. Seperti merasa diperhatikan, Jonathan menoleh kearah Claudie lalu beralih ke Paman George dan tertawa kecil. Merasa bosan, Claudie kembali melangkah menuju kamar Luna.

Pintu kamar Luna diketuk saat Claudie sedang membaca sebuah buku milik Luna yang berjudul I Heart You, You Haunt Me karya Lisa Schroeder. Claudie segera beranjak dari tempat tidur, membuka pintu dan terheran begitu melihat Jonathan berdiri di ambang pintu dan mengenakan mantelnya.

"Sudah siap? Kita akan berpetualang malam ini." ujar Jonathan.

"A..Apa? Kemana? Tapi.. Ini kan sudah malam. Aduh, sebentar," Claudie memejamkan matanya erat-erat, menarik nafas, menghembuskannya perlahan dan membuka matanya kembali. "Jadi, kita akan pergi kemana?"

"I told you. Kita akan berpetualang malam ini. Kita akan mengelilingi kota Melbourne, aku sudah minta izin pada Paman George dan Bibi Ellie. Mereka berdua setuju. Mereka bahkan memberiku kunci pintu jika kita pulang larut malam. Jadi, sekarang bersiap-siaplah. Pakai mantelmu dan bawa barang-barang yang akan berguna pada petualangan kita nanti." ujar Jonathan. Claudie mengerjap perlahan. Butuh waktu untuk mencerna kata-kata Jonathan tadi. "Oh, astaga," Jonathan mengerang dan masuk ke dalam kamar Luna dan berkacak pinggang.

"Ayo, Claudie. Cepatlah." Claudie mengerjap perlahan dan tersentak.

"Oh, ya. Aku lupa. Kau mau aku berganti pakaian atau bagaimana?" Tanya Claudie. Jonathan memperhatikan  penampilan Claudie dari atas sampai bawah. Lalu menggeleng.

"Tidak, tidak usah. Tapi aku sarankan kau untuk memakai mantel dan scarf. Itu juga kalau kau tidak mau mati membeku." Jonathan menggedikan kedua bahunya. Claudie menghela nafas dan tersenyum. Ia meraih mantel, scarf dan juga tas tangannya.

"Baiklah. Ayo kita selesaikan ini semua secepat mungkin." Claudie memukul lengan Jonathan pelan lalu  berjalan meninggalkan Jonathan. Sebelum Claudie berjalan terlalu jauh, Jonathan menarik lengan Claudie untuk menarik perhatian gadis itu. Claudie menoleh.

"Apa?"

"Kita akan berjalan kaki dan naik bus. Kuharap kau tidak keberatan."

***

Kota Melbourne pada malam hari benar-benar padat. Padat dan menakjubkan. Lorong-lorong tersembunyi di Melbourne menjadi tujuan mereka berdua malam ini. Aroma kopi yang tercium dari dalam kedai kopi di sepanjang Degraves Street menusuk hidung Claudie dan ia benar-benar jatuh hati pada aroma kopi itu.

"Joe, mau minum kopi dulu?" Jonathan menoleh kearah yang ditunjuk Claudie. Kearah deretan tenda-tenda dengan kursi dan meja. Jonathan mengangguk. "Kita duduk di luar saja, ya?"

"Baiklah." Jonathan duduk di sebuah kursi di dekatnya berdiri. Claudie duduk di seberangnya. Seorang pelayan dengan senyumnya yang ramah menghampiri mereka berdua dan mencatat pesanan Claudie dan Jonathan.

"Astaga, kopi disini lezat sekali." Claudie menyeruput latte-nya perlahan lalu menghirup aroma latte yang menyembul keluar membentuk asap-asap putih. Jonathan juga melakukan hal yang sama. Ia menyeruput espresso-nya lalu menghirup aroma kopi yang menyembul dari cangkir putihnya.

"Yeah. This coffee has something unexplained." Jonathan memejamkan kedua matanya lalu mulai menyeruput espresso-nya kembali.

Untuk sekian menit, Mereka berdua tidak berbicara. Larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dan itu semua tidak perlu dijelaskan lagi. Karena suasana hati mereka sudah terlukiskan lewat secangkir kopi yang berada di dalam genggaman tangan mereka.

Hangat dan tenang.

Permukaan kopi itu datar dan tidak beriak. Juga tidak terombang-ambing karena kopi itu sedang digenggam oleh tangan-tangan yang benar.

Semua emosi-emosi mereka berdua melebur lewat kepulan asap-asap kopi itu.

***

Friday, 14 September 2012

Ditengah Atmosfir Australia #4

Kali ini  keheningan menyelimuti mereka berdua. Suasana kota Melbourne yang sedang ramai pun menjadi hening di telinga Claudie. Claudie dan Jonathan tenggelam di dalam pikirannya masing-masing.

Claudie berjalan tepat disamping Jonathan. Dan Demi Tuhan, mereka berdua terlihat sangat canggung. Tidak ada yang membuka percakapan terlebih dahulu, hanya Claudie yang kadang menggumam tidak jelas dan melirik Jonathan melalui ekor matanya, dan tetap saja Jonathan tidak bergeming. Entah apa yang membuat Jonathan menjadi pasif seperti ini. Apa karena kata-katanya tadi? Entahlah, saling berdiam diri dengan Jonathan seperti ini saja sudah cukup membuatnya gusar.

"Apa kau lapar? Sudah hampir 3 jam dan kita belum makan apa-apa." Claudie menoleh dan seketika mukanya bersemu merah. Ia mengangguk kecil. Mengetahui bahwa Jonathan tidak menoleh kearahnya dan kecil kemungkinan untuk Jonathan melihat bahwa Claudie mengangguk, Claudie dengan cepat berseru,

"Ya..," hening sejenak. "Aku lapar..,"

Jonathan berhenti sejenak dan menyambar lengan kiri Claudie perlahan. "Ayo, aku juga lapar." Claudie tersentak. "Oh, tunggu sebentar. Jangan kau bertanya padaku dimana kita akan makan sore ini, karena jujur aku sendiri juga tidak tahu kita akan makan dimana, tapi percayalah bahwa kita akan menemukan sebuah tempat yang memiliki cita rasa makanan paling enak karena instingku tidak pernah salah." Jonathan menoleh kearah Claudie dan terkekeh pelan. Claudie ternganga lalu seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Jonathan sudah kembali seperti sedia kala.

***

Claudie sendiri tidak tahu kemana Jonathan akan membawanya. Ia hanya menurut seperti seekor anjing yang sudah terlatih dengan majikannya. Claudie sedang asyik memikirkan segala kemungkinan kemana Jonathan akan membawanya sampai ia merasa terdorong oleh seseorang dan ia jatuh terduduk ke tanah--dengan sebelah tangan yang masih digenggam oleh Jonathan.

Jonathan tersentak dan segera berlutut di depan Claudie. "Kau tidak apa-apa? Yang mana yang sakit? Oh, astaga.." Claudie meringis lalu ia mencoba berdiri dengan susah payah dan tersenyum tipis.

"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik sa..."

"Astaga, maafkan aku young lady. Aku tidak sengaja menabrakmu.., Kau baik-baik saja?" Seorang pria tengah baya menghampiri Claudie dan meminta maaf padanya.

"Aku tidak apa-apa, Sir." Ujar Claudie sambil meringis dan tersenyum tipis kepada pria tengah baya itu. Dan pria tengah baya itupun menghela nafas lega dan tersenyum kepada Claudie lalu beralih kearah Jonathan.

"Jonathan? Kaukah itu? Astaga, kau sudah banyak berubah!" Jonathan dan Claudie saling berpandangan lalu pandangannya kembali tertuju pada pria itu.

"Aku pamanmu. George. Terakhir aku melihatmu kau dulu masih setinggi pinggangku." Pria itu menyentuh pinggangnya dan tertawa. "Kau ingat? Keterlaluan sekali jika kau tidak mengingatku karena dulu aku selalu mengirimmu mainan kayu yang kubuat sendiri." Jonathan tersentak dan tertawa.

"Tentu saja aku ingat, Paman. Aku hanya bercanda." Jonathan memeluk pria tengah baya yang mengaku bernama 'Paman George' itu.

"Sedang apa kau di Melbourne? Dan siapa ini? Temanmu? Astaga, ia cantik sekali." Claudie tersenyum lebar kepada pria itu.

"Paman, ini Claudie. Temanku. Dan Claudie, ini pamanku. Panggil saja Paman George."

"Senang berkenalan dengan anda, Paman George." Paman George tersenyum dan berseru,

"Bagaimana kalau kita makan dulu? Rumahku hanya 4 blok dari sini. Dan aku rasa istriku sedang memasak sesuatu yang lezat. Bagimana? Oh, apakah kalian sudah memiliki tempat peristirahatan? Kalau belum, kalian bisa menginap di rumahku. Jonathan, kau bisa tidur di kamar Edward dan temanmu ini bisa tidur dikamar Luna." Paman George tersenyum kepada Jonathan dan Claudie lalu mereka berdua membalas senyumnya.

"Dengan senang hati, Paman." ujar Jonathan tertawa kecil. Paman George berjalan memunggungi Jonathan dan Claudie lalu mereka berdua pun mengikutinya dari belakang. Lalu Jonathan menyiku sikut Claudie perlahan. Claudie menoleh.

"Kau lihat? Instingku tidak pernah salah, kan?" Jonathan tertawa. Dan itu tidak menahan Claudie untuk tidak ikut tertawa bersamanya.

"You're just lucky." ujar Claudie disela tawanya.

"Terserah apa katamu." Jonathan menggedikan kedua bahunya lalu merangkul Claudie dan menariknya perlahan sehingga sisi tubuh mereka saling tertempel erat.

***

Thursday, 23 August 2012

Ditengah Atmosfir Australia #3

Setelah puas memandang kota Melbourne dari dalam Eureka Tower, Jonathan dan Claudie memutuskan untuk berjalan-jalan di luar Eureka Tower. Di bawah naungan sinar matahari yang cukup terik di awal musim dingin ini.

"Sudah berapa kali kau ke Melbourne? Sepertinya kau mengenal kota ini dengan baik." tanya Claudie.

"Ini yang kali kedua." ujar Jonathan.

"Oh ya?" tanya Claudie. "Selain denganku, kau pergi ke Melbourne dengan siapa? Keluargamu?"

"Bukan." Ujar Jonathan singkat. Claudie berharap lebih dari jawaban yang Jonathan lontarkan tadi. "Dengan Cassandra."

Cassandra. Cassandra Yuan tepatnya. Ia teman kuliah Jonathan. Claudie pernah berkenalan dengannya sekali. Cassandra itu keturunan Cina. Bisa dilihat dari nama belakangnya--Yuan. Dulu Jonathan dan Cassandra pernah dekat. Dulu.

"O-oh." hanya itu yang bisa diucapkan Claudie. Konyol memang. Tapi Claudie tidak tahu harus merespon apa.

"Tidak hanya berdua, Die." ujar Jonathan. "Aku pergi ke Melbourne dengan teman-teman kuliah yang lain. James, Anthony--Paman Tacos dan Lily. Kami kesini untuk menonton F1 waktu itu."

"O-oh," ujar Claudie singkat. "Bagaimana kabar Cassandra?"

Jonathan menghela nafas panjang. "Entahlah. Ia jarang menghubungiku. Aku memang masih sering melihatnya di sekitar kampus. Tapi bukankah itu bagus?" tanya Jonathan sambil tertawa kecil.

"Bagus?" mata Claudie melebar. "Bagus apanya?"

"Sekarang sudah tidak ada yang meneleponku lagi--maksudku Cassandra. Asal kau, tahu, Die. Dia terlalu protektif padaku."

"Begitukah? Jadi kau senang karena tidak ada yang memperhatikanmu lagi?" tanya Claudie heran. Jonathan hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan konyol Claudie tadi. Mereka terdiam beberapa saat. Sampai Claudie memekik girang.

"Oh astaga, Joe. Pemandangan disini indah sekali. Aku akan mengambil beberapa foto." Claudie mengeluarkan pocket camera dari tas kecil yang dikalungkan di lehernya. Lalu Jonathan merebut kamera itu dari tangan Claudie dan menyalakannya.

"Sana. Berdiri disitu. Aku akan memotretmu." ujar Jonathan tegas. Kening Claudie berkerut menatap Jonathan. "Apa?" tanya Jonathan begitu ditatap seperti itu oleh Claudie.

"Apa-apaan?" ujar Claudie.

"Apanya yang apa?" Jonathan balik bertanya.

"Aku ingin berfoto bersamamu, you fool!" ujar Claudie.

"Bodoh. Bagaimana bisa? Sudah, aku saja yang memotretmu." ujar Jonathan. Claudie merampas kameranya dari tangan Jonathan dengan muka berang. Claudie melihat keadaan sekeliling. Lalu ia menghampiri seorang wanita berusia pertengahan tiga puluhan yang sedang duduk di bangku taman.

"Excuse me, Ma'am" ujar Claudie kepada wanita itu. "Bisakah anda memotret kami berdua? Maksudku aku dan temanku yang sedang berdiri disana. Bisa?"

Wanita itu tersenyum dan mengambil kamera yang disodorkan Claudie. "Tentu saja. Ayo kalian berdua berpose disana." Claudie berlari kecil menghampiri Jonathan.

"Joe, ayo cepat." ujar Claudie. Jonathan mendengus. Wanita itu sudah bersiap-siap untuk menekan tombol shutter dan mereka berdua--Jonathan tepatnya hanya berpose sederhana.

Klik.

Pemotretan foto selesai.

Claudie berlari kecil menuju wanita itu dan melihat hasil foto yang baru saja di shoot. Jonathan menghampiri dan mencuri-curi pandang untuk melihat foto itu.

"Wah, bagus sekali. Joe, kenapa kau hanya tersenyum tipis? Tidak bisakah kau tersenyum lebar?" Jonathan mendengus ditodong pertanyaan seperti itu. "Tapi ini hasil yang bagus. Terimakasih, Ma'am." Claudie tersenyum pada wanita itu dan wanita itu membalas senyumnya.

"Sama-sama. Oh, ngomong-ngomong pria ini, dia... pacarmu..?"Claudie tersentak. Menoleh ke arah Jonathan yang tampaknya kaget tapi berusaha untuk menyembunyikan kekagetan di raut wajahnya.

"Dia? Pacarku? Haha.. bukan," Claudie tertawa kaku. Jonathan berdeham--kekagetan di raut wajahnya masih tetap terlihat. Tidak ingin menambah suasana makin canggung, wanita itu berkata kepada Claudie dan Jonathan.

"O-oh, baiklah. Berposelah sekali lagi disana. Aku akan memotretmu." Claudie memberikan kameranya kepada wanita itu dan ia berbisik pelan pada Jonathan. Tak lama, Jonathan dan Claudie sudah berdiri bersampingan dan siap untuk di potret. "Sebentar," ujar wanita itu lagi. "Young lady, masukkan lenganmu diantara lengan pria itu." Claudie menganga. Kening Jonathan berkerut. Tapi Claudie menurut saja. Ia memasukkan salah satu lengannya di antara lengan Jonathan. "Kau, pria muda. Tersenyumlah sedikit. Nah, ya, seperti itu." Jonathan tidak tahu kalau jantung Claudie berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Dinginnya udara di kota Melbourne sama sekali tidak dirasakannya sekarang karena dengan gerakan pelan, Jonathan memasukkan lengan Claudie yang berada di antara lengannya kedalam saku mantel milik Jonathan yang hangat.

"Wow, what a photo! Foto yang ini bagus sekali. Kalian tampak serasi. Coba lihat," Claudie menghampri wanita itu--masih dengan salah satu lengannya yang berada di dalam saku mantel Jonathan. Ia melihat foto itu dan tersenyum lebar. Jonathan tersenyum di dalam foto itu. Dan ya, foto itu memang bagus. "Kalian tahu? Aku rasa kalian sangat serasi untuk menjadi sepasang kekasih. Kenapa kalian tidak menjalin hubungan yang lebih serius saja?"

***

"Apa kata wanita itu tadi? Kita? Sepasang kekasih? Haha yang benar saja.." ujar Claudie dan tertawa canggung. Ia melirik Jonathan disampingnya. Tak ada reaksi.

"Kita hanya bersahabat kan, Joe? Tidak lebih?" tanya Claudie. Kali ini Jonathan berhenti melangkah dan menatap Claudie.

"Menurut pengakuan orang-orang yang aku kenal, persahabatan antara seorang pria dan wanita itu akan menjadi cinta pada akhirnya." Claudie tersentak. Ia menunduk. "Memang, persahabatan itu tidak menuntut apa-apa. Tapi bagaimanapun," Jonathan menelan ludah dengan susah payah. "Bagaimanapun, asal kau tahu, perasaan cinta itu mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Dimulai dari pertemanan, persahabatan, dan berakhir dengan cinta yang bahagia."

Mereka terdiam selama lima detik. Lalu Jonathan berjalan melewati Claudie yang masih terdiam di tempatnya dan mendongakkan kepalanya perlahan dan menatap punggung Jonathan. Tiga langkah dari tempat ia berdiri, Jonathan berbalik menatap Claudie dan menggedikan kedua bahunya. "Just saying. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana akhir cerita ini,  kan?"

***

Saturday, 18 August 2012

Ditengah Atmosfir Australia #2

"I just can't believe it! We're going to Melbourne. Ya, Tuhan.." ujar Claudie bersemangat. Lebih dari bersemangat malah. Jonathan hanya tertawa kecil disamping gadis mungil itu. "Untung aku tidak ada mata kuliah hari ini. Kau juga kan, Joe?"

Jonathan memandang Claudie dan terdiam. "Tentu saja. Kau ini bodoh atau bagaimana?" Claudie sudah akan membuka mulut tetapi tertahan oleh perkataan Jonathan berikutnya. "Jangan membantah. Aku bicara dulu sebentar. Sampai dimana kita tadi? Oh, ya. Kau bertanya apa aku ada mata kuliah hari ini. A-pa  a-ku  a-da  ma-ta ku-li-ah  ha-ri  i-ni." Claudie mendengus. Bodoh? Apa katanya? Dia bahkan tak jauh bodoh dariku. Gumam Claudie dalam hati. "Kalau aku ada mata kuliah hari ini, aku tidak akan bisa menemanimu pergi ke Melbourne, bodoh." Claudie merengut sepanjang perjalanan ke Qantas Club.

***

"Duduk dulu disana sebentar." Jonathan menunjuk deretan kursi bandara setibanya di Qantas Club dengan dagunya. Claudie mengangguk dan menurut saja. "Ada beberapa hal yang harus aku urus. Tunggu sebentar, ya? Jangan pergi kemana-mana. Kalau kau haus, ada sebotol air mineral di dalam ranselku." Ujar Jonathan dan itu terdengar protektif.

"Demi Tuhan. Aku bukan anak kecil lagi, Joe.." Claudie merengut. Dan Jonathan tersenyum samar.

"Baiklah. Tunggu disini sebentar. Dan dalam sekejap kita akan tiba di Melbourne."

***

"Melbourne! Ya Tuhan, Melbourne, Joe, Melbourne!" pekik Claudie kelewat girang setelah satu setengah jam perjalanan untuk tiba di Melbourne. Jonathan hanya menggeleng setibanya mereka di bandara bagian domestic arrival.

"Yeah. We're in Melbourne now. One of  The World's Most Liveable Cities." ujar Jonathan.

"Here we are," seru Claudie menahan nafas. "Let our adventures begin." Claudie melirik kearah Jonathan dan ia tersenyum mantap sambil mengangguk. Petualangan mereka berdua baru saja dimulai.

"Joe. Kita harus mencari tempat penginapan. Tapi dimana? Yang lokasinya strategis, dan pemandangan yang memukau tentu saja." ujar Claudie.

"Bagaimana kalau di Milano?" tanya Jonathan.

"Terserah.. Aku belum pernah ke Melbourne sebelumnya, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang Melbourne." Jonathan terdiam sejenak. Sibuk memandangi pemandangan di kota Melbourne ini.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Untuk tempat menginap, kita bisa mencarinya nanti. Bukankah kita disini untuk bersenang-senang? Bukan untuk mencari tempat penginapan, kan? Sudahlah. Ayo ikut aku. Aku tahu tempat yang bisa membuatmu terpukau." Ujar Jonathan sambil mencengkram lengan Claudie kuat. Kuat dan membuat Claudie merasa terlindungi luar dalam.

***

"Apa kau takut ketinggian?" tanya Jonathan pada Claudie. Tangannya masih mencengkram lengan Claudie kuat. Takut Claudie hilang ditengah-tengah kota Melbourne yang cukup padat akan lautan manusia.

"T-Tidak. Memangnya kenapa? Apa tempat yang akan kita kunjungi berada di ketinggian?" tanya Claudie polos.

"Ya. Dan lihat saja nanti. Kalau nanti kau tidak terpukau melihat tempat itu, setidaknya kau akan terpukau karena melihatku." Claudie mendengus. "Hei, asal kau tahu. Jonathan Byer ini memiliki pesona yang, ugh, luar biasa." ia tertawa. Claudie mendengus lagi dan tidak menanggapi perkataan Jonathan tadi.

***

"Eureka Tower? Kau membawaku kemari untuk apa?" Claudie mendongak kearah Eureka Tower yang sangat tinggi menjulang. Dan Ia harus menghalau sinar matahari dengan sebelah tangan untuk bisa melihat Eureka Tower lebih jelas lagi.

"Ya. Seperti yang kaulihat. Sudah puas memandanginya dari luar? Kalau sudah, ayo kita masuk kedalam. Pemandangannya tidak kalah menakjubkan dari dalam." Claudie mengangguk. Jonathan menarik tangannya dan menggenggamnya. Memang tidak seerat genggamannya tadi saat mereka berdua melangkah keluar dari bandara.

"Joe," ujar Caludie polos.  Jonathan hanya menanggapinya dengan gumaman "Hmm". "Gedung ini terdiri dari berapa lantai?"

"Totalnya 92." Claudie menggumam pelan tanda mengerti.

Saat keluar dari lift, Claudie terkejut karena lantainya bening transparan dan Ia bisa melihat kota Melbourme dari bawah. Rasanya takjub, juga takut. Ia berjalan cepat menuju salah satu jendela besar di sudut gedung itu. Dan ia merasa dadanya sesak. Sesak karena senang. Dari jendela itu, kota Melbourne terlihat sangat indah.

"Sebenarnya tempat ini jauh terlihat sangat menakjubkan saat malam hari." ujar Jonathan yang sekarang berdiri tepat disamping Claudie. Memandang kearah yang sama. Kearah kota Melbourne di bawah sana.

Claudie menoleh kearahnya dan tersenyum lebar. "Saat ini juga pemandangannya indah. Aku suka."

Jonathan berdeham. "Baguslah kalau kau suka. Aku sudah bilang padamu tadi kalau tempat ini akan membuatmu terpukau."

"Ya," Claudie memandang lurus kedepan--kearah luar jendela besar itu. "Kau benar. Aku sangat terpukau. Terima kasih, Joe."

"Ya, ya, baiklah. Kau bilang tempat ini sukses membuatmu terpukau. Lalu, bagaimana denganku? Apa aku membuatmu terpukau juga?"

Claudie mendesah. "Oh, astaga. Bagaimana, ya?" ujarnya jenaka. Jonathan menunggu sambil mengangkat kedua alisnya. "Baiklah. Kau juga memu..."

"Yeay! Ternyata benar. Dengan membawamu ketempat seperti ini saja aku berhasil membuatmu terpukau. Bagaimana kalau aku mengajakmu ke... Pegunungan Alpen misalnya? Hahahaha." Jonathan tertawa. Dan itu membuat Claudie terpancing juga untuk ikut tertawa bersamanya. Hari pertama di Melbourne sungguh membuat hati Claudie berdebar-debar dan ia tidak sabar, kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh Jonathan Byer untuknya.

***

Thursday, 16 August 2012

Ditengah Atmosfir Australia

Jonathan. Entah, bibir Claudie terasa aneh saat menggumamkan nama itu. Jonathan. Ia lebih sering memanggilnya Joe. Dan Jonathan memanggilnya Die. Kependekan dari Claudie. Itu nama akrab mereka.. Joe dan Die.

"Joe, kamu ada acara besok?" tanya Claudie saat mereka berdua berjalan menyusuri Milsons Point. Jonathan menggeleng samar. "Temani aku ya?"

"Kemana?" Jonathan menjawab dengan suaranya yang berat. Claudie menyukai suara itu. Sangat suka.

"Jalan-jalan. Aku bosan dirumah. Kita bisa pergi menonton film di Westpoint, atau jalan-jalan ke Luna Park, atau ke Melbourne? Hahaha aku selalu ingin bisa pergi ke Melbourne."

"Boleh. Kau mau pergi ke Melbourne? Kalau kau mau, kita harus beli tiket pesawatnya sekarang." Ujar Jonathan serius. Claudie tidak melihat ada unsur canda dari kalimatnya. Ia merengut.

"Joe! Aku kan hanya bercanda. Apa kau benar-benar berfikir kalau aku ingin pergi ke Melbourne? Aku tidak--maksudku aku memang ingin pergi ke Melbourne tapi tidak sekarang!" Claudie melepas gandengan tangannya. Mereka berhenti melangkah dan Jonathan tertawa.

"Die, please. Are you having period? You look so angry today." Jonathan menatap Claudie jenaka. Claudie menjadi senewen setelah ditatap seperti itu.  "I was kidding. Apa kau kedinginan? Mukamu pucat." Ia memiringkan kepalanya. Claudie mendongak.

"Yeah. It's getting cold here. Pulang, yuk." Claudie berjalan melewati Jonathan dan ia segera menyusul Claudie.

"Wait!" Jonathan menggengam tangan Claudie erat. Bisa ia rasakan tangan Jonathan yang dingin dan kuat. "I'm having dinner. If you'd care to join me." Claudie tertegun. Menoleh kearahnya dan tersenyum lemah. "Pakai ini dulu," Jonathan melepas scarfnya dan melilitkan itu di leher Claudie. Hangat. "Nah, that's better. Yuk. Nanti kita nggak jadi makan. Mau makan dimana?"

Claudie berfikir sejenak. Begitu banyak restoran dan cafe-cafe yang enak di sepanjang Blacktown. "Bagaimana kalau di Wagaya? Sepertinya minum secangkir ocha tengah atmosfir Blacktown yang semakin menusuk menyenangkan." Jonathan terlihat berfikir dan akhirnya ia mengangguk setuju.

***

"Sudah. Masuk sana. Udaranya semakin dingin. Aku pulang dulu, ya." Jonathan mengantar Claudie pulang. Kini mereka berdua sudah berdiri di depan pintu rumah Claudie.

"Mau masuk dulu?" tawar Claudie. Jonathan menggeleng.

"Sibuk." ia tertawa kecil. Claudie mendengus. "Pura-pura sibuk." Ia tertawa lagi.

"Masuk dulu Joe. Diluar itu dingin. Aku tidak mau kau sakit. Ingat saat kau demam 2 minggu lalu? Aku kewalahan mengurusimu." Claudie meringis.

"Memangnya aku minta bantuanmu? Tidak, kan? Kau saja yang terlalu berlebihan.."

"Aku ini sahabatmu, Joe. Apakah aku tega membiarkan sahabatku sendiri terkapar lemah di kamar tidur sementara aku bersenang-senang? Astaga."

"Haha. Jangan khawatirkan aku, Die," Jonathan merapatkan mantelnya. "Aku pulang dulu, ya. Oh! Bagaimana besok? Apa kita jadi jalan-jalan? Just send me texts or emails, okay? Aku pulang dulu, ya." Ia berbalik. Memunggungi Claudie dan dalam beberapa langkah lagi siluetnya akan segera menghilang.

Dan Claudie tidak bisa diam berdiri mematung disini.

"Tunggu!" ujar Claudie setengah berteriak. Sebelum Jonathan sempat berbalik, Claudie sudah memeluknya erat dari belakang.

"Hei," ujar Jonathan pelan. "Ada apa?"

"Don't move, please." suara Claudie terdengar serak. Asap putih keluar dari hidung mereka berdua. Claudie memeluk pinggang Jonathan, dan Jonathan menggenggam kedua tangan Claudie erat. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dari genggaman itu. "Biar begini saja. Lama pun tak apa. Dan jika kita sakit, kita akan sakit berdua. Dengan begini, tidak akan ada pihak yang di rugikan, kan?" Claudie tetap memeluknya. Dan Jonathan masih menggenggam tangan Claudie erat.

"Die, please. I don't want you to feel bad so, I bet you'd better go home. Masuk, ya?" Jonathan menyuruh Claudie untuk masuk ke dalam rumah. Duduk di depan perapian dan meminum segelas cokelat panas atau Earl grey tea. Tapi Ia tetap tidak mau. Sebentar lagi, Joe. Izinkan aku merasakan dinginnya atmosfir yang kau rasakan dalam perjalanan pulangmu ke rumah.

"Sebentar lagi, Joe. Aku masih mau begini.."

"Aku.. Aku juga sebenarnya masih mau, Die. Tapi aku rasa tidak ada hal yang lebih memalukan daripada ini. Maksudku, coba lihat. Beberapa pasang mata melihat kearah kita.. Die, ayolah.."

"Mereka hanya iri, Joe. Mereka iri karena mereka tidak bisa berbuat seperti ini dengan orang-orang yang mereka sayangi." Claudie mulai melonggarkan pelukannya dan Jonathan tertawa kecil.

"Begitu?" Jonathan membelai rambut Claudie yang basah terkena embun di akhir musim gugur yang dingin ini. "Sekarang, masuklah kedalam. Kita akan bertemu lagi besok. Sampai nanti." Ia melambaikan tangannya dan pergi. Claudie tidak menahannya. Membiarkan Jonathan pergi dan menghilang seperti kristal es yang melebur menjadi air saat mengenai tanah. Wow, musim dingin sudah datang.

***

"Did you receive my messages last night?" tanya Claudie saat Jonathan duduk di sofa ruang tengah rumah Claudie sambil memainkan iPadnya.

"Apa? Oh, ya. Aku menerimanya. Dan membacanya. Memangnya kenapa?"

"You didn't reply my messages. I thought you went out to somewhere with someone else, so yeah.."

Jonathan berhenti memainkan iPadnya dan tertawa. "Jealous, yet? Hahaha. Tidak, Die, I wasn't going anywhere. Aku tertidur. Aku baru membaca SMSmu saat aku bangun tidur." jawabnya. Aku mengangguk samar tanda mengerti. "Omong-omong, kita mau pergi kemana hari ini?"

Claudie menggedikan bahu dan berjalan menghampiri Jonathan lalu duduk disebelahnya. "Tidak tahu. Menurutmu kemana?"

"Luna Park?"

"Bosan."

"Westpoint?"

"Aku sedang tidak ingin menonton film.." Mereka berdua terdiam cukup lama. Tak lama kemudian, Claudie berseru, "Aku tahu!!" ujarnya antusias.

"Melbourne!" ujar mereka berdua bersamaan.

***

Thursday, 31 May 2012

Mendung

Hari ini mendung, A. Pasti sebentar lagi hujan akan turun. Aku suka hujan, lho. Semua yang berhubungan dengan hujan. Rintiknya yang jatuh perlahan membasahi bumi, iramanya, aroma hujan yang membasahi tanah.., semuanya. Tapi hujan itu akan menjadi jauh lebih indah saat kau ada disini - menunggu datangnya hujan dari langit mendung yang kelabu bersamaku.

Aku juga suka musim gugur. Tapi sayangnya tidak ada musim seperti itu di negaraku. Rasanya menyenangkan melihat daun-daun yang kekuningan berguguran jatuh ke bumi. Angin yang berhembus, suasana yang dibawa oleh musim itu sendiri, semuanya, dan lagi, saat aku ada disana - bersamamu, memandang daun-daun kering yang mulai perlahan jatuh ke bumi. Dan ada satu hal yang ingin aku lakukan saat itu juga,

Memelukmu.

Satu tetes air mulai turun membasahi bumi. Langit telah menumpahkan cairannya. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes..,

Langit sedang menangis. Apa yang sedang ia tangisi? Kepergian seseorang? Kehilangan sesuatu yang berharga?

Yang pasti, saat aku kehilanganmu, aku tidak akan ragu-ragu untuk menumpahkan berliter-liter air dari kedua mataku seperti yang langit lakukan. Awan kelabu telah mengepungku. Aku tidak bisa berkutik. Yang bisa aku lakukan hanya menangis, berharap dari tiap tetes air mataku akan berubah menjadi sebuah tameng yang dapat melindungiku dari berbagai macam rasa kehilangan yang mendalam.

Salah satunya rasa kehilangan akan hilangnya dirimu.

Awan Colombus mulai menampakkan dirinya. Bukan awan mendung biasa. Ini sudah lebih dari mendung yang biasanya.

Bersiaplah, tamengku sepertinya tidak akan sanggup untuk menanggung seluruh rasa kehilanganku akan dirimu. Ya, sepertinya.

Tuesday, 1 May 2012

Guratan Kecil

                Semua orang mempunyai mimpi. Semua. Se-mu-a. tak terkecuali aku. Mimpiku banyak. Ada ratusan ribu, dan hanya sepersepuluh saja yang baru terwujud. Sisanya? Belum terwujud. Entah kapan terwujudnya. Tapi meskipun mimpi-mimpi itu masih belum terwujud, aku tetap berdoa pada Tuhan. Berharap agar mimpi-mimpiku itu segera terwujud.
                Mimpi gilaku salah satunya adalah membeli saham, atau bahkan kalau bisa membeli pabrik cokelat beserta isinya milik tokoh fiksi Willy Wonka. Gila? Ya, mimpiku aneh. Jauh dari kata normal. Tapi hei, ini mimpiku. Di mimpiku, di mimpimu, mimpi kalian, mimpi kita, kita sendiri bisa bermimpi  yang aneh-aneh. Ayolah, jangan malu. Jangan takut tidak terwujud. Ada Tuhan yang akan mewujudkannya.
                Mimpi gilaku yang kedua. Jujur, aku sendiri tidak tahu hal ini di kategorikan kedalam mimpi, ambisi, obsesi, atau apa. Yang aku tahu, aku bermimpi, dan aku akan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu. Itu pointnya. Kita kembali ke beberapa bulan silam. 8 bulan 6 hari, lebih tepatnya. I met someone. Bukan di dunia nyata. Bukan juga di dunia khayal. Tapi di dunia maya. Bersyukurlah karena teknologi sudah maju sekarang ini. Karena kalau tidak, kemungkinanku untuk mengenal orang itu hanyalah tiga banding sembilan juta.
                Entah apa yang membuatku tertarik pada orang itu. Toh aku belum pernah ‘menemuinya’ secara nyata di dalam kehidupan manusia yang absurd ini. Perkenalanku hanyalah sebatas beberapa foto. Yap, benda dua dimensi. Benda dua dimensi yang berdampak luar biasa. Tidak percaya? Dampaknya sudah menempel di tubuhku. Masuk ke dalam ragaku, mengalir di dalam aliran darahku, oke ini hiperbola. Hanya dari sebuah foto, aku merasa kalau aku benar-benar yakin bahwa, dia orangnya.
                Dia memang bukan orang terkeren, tertampan, juga orang dengan segala ter yang pernah aku temui, TAPI, dia orang pertama yang mampu membuatku menunggu. Menunggu. “Apa sih enaknya menunggu? Lebih enak juga ditunggu.” Itu komentar yang biasa aku dengar. Jujur, aku sendiri juga bingung. Kenapa aku mau menunggu orang itu? Orang yang mungkin, menganggapku sebagai orang asing yang gila. Tapi tidak untukku. Aku tidak menganggapnya sebagai orang asing. Aku menganggapnya sebagai seseorang dalam hidupku, yang mempunyai peranan penting. Seperti itulah.
                Dia orang pertama yang membuatku menjadi seorang penggemar yang fanatik, dia orang pertama yang membuatku bingung—tapi juga senang, dia orang pertama yang berhasil mengubahku hampir, 180 derajat. Dia orang pertama yang membuatku mengerti apa itu rasanya menyukai seseorang. Dia orang yang mampu membuatku bahagia dan menangis di saat yang bersamaan.
                Sudah cukup dengan dia-nya. Sekarang dengan aku.
                Aku yang histeris saat melihat namanya terpampang di layar komputerku dengan tulisan ‘is now available to chat.’, aku yang selalu mengintai aktivitas facebooknya. Apapun itu. Aku yang selalu mengambil fotonya dari Facebook tanpa persetujuan dan pengetahuannya, aku yang dibuat tertawa dengan perkataannya yang konyol di wall Facebook-nya, aku yang menangis—terharu saat ia baru memposting foto dirinya, aku yang menulis berlembar-lembar tulisan tentangnya, cerita, puisi, sajak, aku yang selalu teringat akan dirinya saat  mendengar dentingan piano dan lagu Miss You Like Crazy yang ditembangkan oleh Natalie Cole, dan aku yang menyukainya. Bahkan, lebih dari sekedar kata suka.
                Mungkin ini terdengar aneh bagi kalian, dan sama, bagiku juga aneh. Kami berbeda. Banyak perbedaannya. Agama, iman, kewarganegaraan, pola hidup, tapi seakan-akan ‘perbedaan’ diantara kami itu bagiku tidak ada. Tidak ada perbedaan. Kami sama.
                Kalian tahu? Dia salah satu motivasiku untuk memperdalam tatanan Bahasa Inggris-ku yang belum fasih. Dia yang menumbuhkan mimpi-mimpi gila padaku. Seperti, saat dewasa aku harus pergi ke Australia untuk menemuinya. Hanya bertemu. Itu lebih dari cukup. Tak berbicara, tak menyapa, hanya melihatnya dari kejauhan. Meskipun ia sudah berkomitmen dengan seseorang, siapapun itu, dan bukan aku, asalkan aku sudah bisa menemuinya, melihat wajahnya secara nyata, bukan dari barang dua dimensi, itu sudah lebih dari kata cukup.
                Karena saat ia bahagia, yang aku tahu, aku juga ikut bahagia. Kalimat sederhana yang klise, picisan, murahan, atau apapun bagi kalian, terserah. Karena bahagia itu sesungguhnya memang betul-betul sederhana.

Bekasi, 14 April 2012.
Dwi Ayu Wulandari

Friday, 9 March 2012

Portraits

Awal bulan Maret. Waktunya langit menumpahkan seluruh cairan yang telah ia timbun selama kurang lebih 6 bulan. Awan kelabu menggumpal di atas langit. Suara gemuruh bersahut-sahutan. Seakan-akan memberi isyarat bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Di iringi dengan semilir angin yang cukup membuat merinding.

Pria itu, dengan kacamata full-frame-nya dan dengan kamera Nikon D90 yang selalu menggantung di lehernya menatap keluar jendela yang mulai di hiasi rintik-tintik hujan. Ia seperti sedang memperhatikan gerak-gerik orang di luar sana. Juga seperti sedang memperhatikan jatuhnya rintik hujan ke permukaan bumi.

Aku melihatnya, lagi. Hampir setiap hari aku melihatnya. Duduk disana, di temani dengan kamera dan iPad-nya yang selalu menemani pria itu. Entah apa yang ia tunggu. Sesekali aku meliriknya, dan tatapannya terus terpaku keluar jendela. Apa yang ia cari? Selama 1 minggu aku berusaha mencari jawabannya. Tapi tetap, jawaban itu tak kunjung datang.

***

Udah hampir 2 minggu  gue datang kesini. Dan orang itu tetap nggak datang. Gue masih nunggu dia. Gue masih menunggu janjinya waktu itu. Tunggu dia disini, dan ambil fotonya. Tapi apa? Kamera gue cuma bisa nganggur disini. Menunggu objek yang entah hilang kemana.

Yang gue tunggu dari dia, selain fotonya, yaitu janjinya. Janji yang dulu banget dia bilang sama gue. Dia janji kalau dia akan bantuin gue nyari objek yang bagus buat lomba fotografi gue dulu, sekitar 2 bulan yang lalu. Lombanya emang udah lewat. Tapi dia udah janji sama gue. Dan janji dia itu, yang bikin gue mau nunggu 3 bulan lamanya.

Oh iya, 1 lagi. Gue mau minta maaf sama dia. Dulu, waktu kita masih kuliah di tempat yang sama, gue janji mau bantuin dia waktu itu. Dalam rangka penggalangan dana.., ya kira-kira kaya gitu. Dan gue benar-benar lupa disitu. Gue malah sibuk sama urusan gue sendiri. Dia emang nggak marah waktu itu. Tapi gue merasa bersalah.

Dan disinilah gue. Menunggu. Nggak tau sampai kapan.

***

Aku melirik. Orang itu masih disana. Melihat ke arah jam 3, ke luar jendela. Memperhatikan rintik hujan yang turun perlahan ke bumi.

"Minumnya mau tambah lagi, mas?" seorang waitress menghampiri pemuda itu. Pemuda itu tersentak dan menatap gelasnya yang sudah kosong.

"Boleh, blueberry tea, ya." ujar pria itu---tersenyum. waitress itu mengangguk dan berlalu. "Eh mba tunggu.. sebentar,.." waitress itu kembali menghampiri pria itu.

"Ya?" tanyanya. "Ada yang kurang?"

"Ada pesan untuk saya? Dari seseorang? Namanya......,"

Ponsel-ku berbunyi nyaring. Sial! Di saat seperti ini? Aku ingin tahu apa yang sedang pria itu bicarakan! Aku menekan tombol answer dan berbicara dengan Lytha---kakakku yang tadi menelefon. Dan tentang pria itu---aku akan menemuinya besok.

***

Gue risih. Daritadi ada cewek yang ngeliatin gue mulu. Gue tau, gue nyadar. Maka dari itu gue selalu mengalihkan pandangan gue ke luar jendela. Dari kaca jendela, gue masih bisa liat wajah cewek itu sekilas. Dan mukanya hampir sama kayak Lytha. Orang yang gue tunggu dari 2 minggu yang lalu.

Kata mbak-mbak pelayan di cafe ini, nggak ada satupun pesan buat gue. Tadinya gue mikir kalo Lytha bakalan ninggalin pesan ke gue, kenapa dia nggak dateng nemuin gue disini. Tapi nihil. Dan kayaknya gue mesti nunggu dia lagi disini.

***

"Aku baru mau pulang..., aku nggak tau orangnya yang mana! Tadi banyak orang yang bawa iPad di cafe itu. Jenis kameranya, aku juga nggak tau. Bagiku kamera SLR itu sama aja..., besok? Lagi? Kak, mending kakak sendiri aja deh yang ketemu sama orang itu. Udah ah!" sambungan terputus. Kakakku memang keras kepala. Ia menyuruhku untuk menemui temannya di cafe itu. Dan katanya, dia selalu membawa iPad dan kamera SLR-nya. Nama orang itu Duta. Kakakku---Lytha, ingin memberikan sebuah potret gambar dirinya kepada Duta. Janji lama, katanya. Tapi entah kenapa, kakakku tidak mau memberikannya sendiri. Aneh.

***

Udah hampir gelap. Ditambah mendung. Sama kayak isi pikiran gue. Keruh. Dan lagi, dia nggak datang. Gue bangun dari tempat duduk gue. Gue sempet ngeliat ke arah luar jendela. Dan disana, Lytha berdiri. Di bawah rintikan hujan. Dengan cewek yang tadi ngeliatin gue di dalam cafe.

***

"Orangnya yang itu? Serius kak? Masa sih? Ih serius, aku nggak nyangka. Aku selalu ketemu orang itu disana."

"Udah tau kan orangnya yang mana? Tuh, dia lagi ngeliat ke arah sini. Sekarang kamu lari ngasih album ini, gih." Aku mengangguk dan segera berlari kecil kearah pria itu.

***

Lytha disana! Gue hampir nggak percaya sama apa yang gue liat. Dan dia ngeliat kesini, kearah gue. Oh, cewek itu, yang tadi ngeliatin gue di cafe berlari kecil kearah gue. Apa hubungannya Lytha dengan cewek itu?

***

"Duta, ya?" pria itu mengangguk, sambil melihat ke luar jendela. Kearah kak Lytha. "Saya Dytha. Adiknya kak Lytha. Kak Lytha bilang, dia nitip ini buat kamu." Aku mengulurkan album foto itu. "Saya pergi dulu, ya. Oh. satu lagi. Kak Lytha bilang, kamu mesti berhenti nungguin dia. Masih ada sesuatu yang layak buat kamu tunggu."

***

Cewek itu, yang namanya Dytha, yang katanya adiknya Lytha ngasih sebuah album foto ke gue. Gue nggak tau isinya apa. Gue masih ngeliatin Lytha disitu. Di seberang jalan. Sekilas, gue ngerasa kalau dia senyum ke gue. Dan Lytha pergi. Dia pergi sama Dytha---adiknya.
Gue kembali duduk di kursi yang tadi gue dudukin. Dan gue ngebuka album foto itu.

Isinya ada beberapa foto hasil bidikan gue. Entah bidikan asal, atau bidikan yang pernah gue ikutin ke salah satu sayembara dan pameran. Dan juga ada foto gue sama dia waktu kita berdua lagi tidur-tiduran di lapangan---waktu kita capek habis nyari objek fotografi yang nggak ketemu-ketemu dan akhirnya kita berdua berpose konyol. Konyol banget.

Ada foto waktu dia ulangtahun. "Lytha's Birthday Bash! :D" waktu dia di siram pake kopi, terigu, sama telur. Ada foto bidikan dia waktu gue lagi serius ngerjain soal-soal logaritma yang susahnya minta ampun.

Dan sekelibat kenangannya juga.

Di halaman terakhir, ada potret dirinya sendiri. Matanya nggak ngeliat ke arah kamera. Dia ngeliat keluar jendela sambil bertopang dagu. Di samping lengannya ada selembar foto. Foto gue sama dia. Waktu kita berdua lagi foto studio di studio punya bokap gue. Seinget gue, gue nggak pernah motret dia dalam momen yang kayak gitu. Bukan gue yang motret. Bukan gue. Tapi Egi.

Selembar kertas terselip.

Bonjour, Duta! ;D

Mungkin, waktu lo liat album foto itu, lo bakal senyum-senyum sendiri karena lo bakal inget sama gue haha!
Dan surat ini pasti bikin lo bingung. Iya, kan? Nah, gue minta maaf sebelumnya kalau selama ini gue 'menghilang' dari lo. Dan janji gue ke elo tentang sayembara itu, maaf, maaf banget, gue gak bisa nepatin janji itu. tapi gue nepatin janji gue yang satu lagi! foto gue sendiri. udah liat, kan? keren nggak?xoxo. foto itu yang ngambil Egi. inget? temen kita dulu. yang dulu jadi crush gue ;p tapi tenang, kita cuma temenan, kok. lo masih tetep jadi sahabat baik gue, Ta. dan alasan kenapa gue menghindar dari lo, nggak tau deh, gue sendiri juga bingung haha.
lo udah lama nungguin gue, kan? maka dari itu, dari sekarang, yuk, berhenti nungguin gue. karena masih banyak hal yang pastinya sangat amat layak buat lo tunggu. salah satunya... iPad keluaran terbaru atau DSLR yang lo idam-idamkan selama ini ;p xoxo

have a great day, Duta! :)

ps: cuma bisa ngasih album dan portrait gue sendiri. janji gue lo anggap lunas, ya! ;) satu lagi, menunggu itu nggak enak. lo harus berhenti nunggu yang nggak pasti kayak gini. soal alasannya, semua orang punya sesuatu yang nggak harus di kasih tau ke orang banyak, kan?

***

Terinspirasi dari cerpen karya Kimiko Hikari Z yang berjudul Frappuccino.

Saturday, 3 March 2012

Sepotong Roti

"Bagaimana?" tanya gadis berambut merah itu dengan harapan di cahaya matanya. Orang yang tadi mendatanginya--seorang gadis dengan topi wol rajut yang rajutannya sudah lepas menggeleng pelan. Mata gadis berambut merah itu berhenti memancarkan sinar. Ia mundur, lalu kembali duduk sambil memeluk kedua lututnya.

"Maaf. Besok aku coba lagi. Makan saja dulu roti yang waktu itu." ujar gadis bertopi wol. Gadis berambut merah mengangguk pelan dan mengambil roti yang di bungkus dengan kantung plastik. Lalu ia membersihkan sedikit demi sedikit jamur yang menempel di atas permukaan roti itu.

"Besok, kalau aku mendapat uang, aku akan membeli roti yang baru." gadis bertopi wol tersenyum pada gadis berambut merah. Gadis berambut merah memotong roti yang sudah tinggal seperempat itu menjadi dua bagian. Untuk dimakan olehnya--dan juga oleh gadis bertopi wol.

"Kenapa mereka semua pelit? Orang-orang dijalan itu, mereka mampu membeli berbotol-botol bir dan berlapis-lapis roti. Tapi mereka tidak mau memberi kita barang 1 penny saja." gadis berambut merah itu berbicara sambil menatap lurus kedepan. Tepat kearah sebuah toko roti yang selalu ramai di datangi pembeli.

Gadis bertopi wol berkata, "Mereka punya kebutuhan masing-masing. Dan kebutuhan mereka lebih banyak dari kita..,"

"Tapi mereka pelit!!" potong gadis berambut merah. "Apa susahnya memberi 1 penny saja? Mereka tidak akan miskin! Setiap hari mereka menghambur-hamburkan puluhan dollar untuk hal-hal yang tidak berguna. Apa susahnya 1 penny saja?!"

"Hei," gadis bertopi wol mengelus kepala gadis berambut merah pelan. "Jangan di pikirkan lagi. Besok aku akan berusaha lebih keras dan aku berjanji aku akan pulang dengan membawa sepotong roti dari toko itu. Dan janji kau tidak akan pergi kemana-mana sebelum aku pulang." Gadis berambut merah itu mengangguk dan mulai melahap roti berjamur yang ada di genggamannya itu.

***

"Oke, aku akan mencari cara agar aku bisa mendapatkan uang. Dan aku akan pulang dengan membawa roti di tangan kananku. Kau jangan pergi kemana-mana, ya. Aku akan segera kembali." gadis berambut merah mengangguk kepada gadis bertopi wol. Dan siluet gadis bertopi wol lenyap di antara kepadatan orang-orang di jalan, seiring dengan turunnya salju.

***

"Hey, aku kembali!" Gadis bertopi wol memegang sebuah kantung plastik dengan roti di dalamnya. Dia baru saja bekerja part-time di toko roti itu dan dibayar dengan sepotong roti. Senyum di bibirnya menghilang seketika saat ia menyadari bahwa gadis berambut merah tidak pada tempatnya. Ia panik. Bukankah tadi ia menyuruhnya agar ia tetap tinggal disini?

Ia keluar dengan tergesa-gesa. Yang ia pikirkan hanyalah, agar gadis berambut merah itu selamat.

"Maggie!" gadis bertopi wol itu menoleh. Ia berderai airmata. Ia menangis. "Adikmu, Lulu, ia... tertabrak..." Lutut gadis bertopi wol itu lemas seketika. Lulu, gadis berambut merah itu, adiknya..., Astaga!

Gadis bertopi wol itu berlari menuju kerumunan orang di depan toko roti itu. Dan ia melihat adiknya--gadis berambut merah itu terlentang di jalan dengan pelipis, tangan dan kaki yang penuh dengan darah.

"Kak," ringisnya pelan. "Ternyata aku salah. Orang-orang itu baik. Tadi ia berkata padaku bahwa ia akan membelikanku roti sebanyak apapun yang aku mau jika aku mengikutinya. Dan tiba-tiba, ia menghilang..,"

"Jangan kau teruskan," tangis gadis bertopi wol itu mulai pecah.

"...Tapi suaranya masih terdengar. Dan disinilah aku. Aku akan memakan roti-roti itu, Kak. Bukan roti berjamur yang biasa kita makan,"

"...Maaf aku tidak menuruti perkataan kakak. Tapi kalau aku tetap tinggal, aku tidak akan pernah bisa memakan roti-roti itu. Oh iya, kakak membawa rotinya? Roti itu kakak makan sendiri saja. Kalau roti kakak sudah habis, aku akan mengirimkan satu pabrik roti yang baru untuk kakak."

"...Aku pergi dulu ya, kak. Kita akan bertemu lagi nanti, di toko roti yang kelak akan aku bangun di..sa...na..."

***

Sunday, 26 February 2012

Mozaique #2

"Kau.. Kau tahu puisi itu? Astaga.." aku terpekik. Kaget. Tidak menyangka.

"When a Woman Loves a Man karya David Lehman, kan? Aku pernah membacanya di sebuah web dan, it was..good." jawabnya--santai.

Suaraku makin tidak terkontrol lagi saking senangnya. Dia berbeda. Aaron berbeda. Dia tidak seperti George, Nathan, Dan, atau pria lain yang langsung menguap begitu aku membicarakan tentang sastra. Entahlah,

"Eh," ia menoleh. "Apa?"

"Keberatan kalau aku panggil A saja? Supaya pendek, maksudku." ia mengangguk. Anggukan yang berarti 'Iya'. "A," ia tidak menoleh. Tapi merespon dengan suara 'Hm'. "Kau suka sastra? Kalau suka kenapa mengambil jurusan hukum?"

"Kenapa sekarang kau jadi mau tahu begitu, sih?" ujarnya--tertawa. "Itu hanya sekadar hobi, kok."

"Tapi ini lain, A. Hobi dan suka itu.. berbeda. Dan perbedaannya...tampak jelas."

"Ini hanya hobi. Nggak lebih, okay? Memangnya kalau aku menyukai sastra kenapa? Aku dapat nilai tambahan satu poin sebagai orang yang menarik? Lucu sekali."


Kalau iya, memangnya kenapa?

"Moza," ia berdeham. "Aku mengantarmu sampai sini saja, ya. Maaf, bukannya tidak sopan, tapi masih ada proposal yang belum selesai aku kerjakan."

Aku mengerjapkan kedua mataku. Hah?!

"Kenapa nggak bilang daritadi? Sekarang sudah jam 2! Coba kalau kau bilang daritadi. Aku 'kan bisa pulang sendiri!"

"Sshh, tidak apa-apa. Aku sudah biasa begadang untuk mengerjakan proposal sialan itu." ia tertawa. Tapi bagiku itu sama sekali tidak lucu.

"Fine," desisku pelan. "Pulanglah dan kerjakan proposalmu, dan ini, kartu pengenalmu. Terima kasih untuk hari ini, A."

"Hari ini? Maksudmu kemarin?"

"Hah? Ap.. oh, I got it. Maksudku, kemarin. Terima kasih. Dan juga untuk hari ini. Hari ini atau kemarin, entahlah, Intinya, terima kasih, A."

"Terima kasih juga. Catch you later."

***

Aaron itu berbeda. Benar, kan? Aku tidak salah, kan? Dia tidak menguap--maksudku, bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa dia tidak bosan saat aku mulai berceloteh tentang puisi atau karya sastra yang lain. Ia bahkan tahu puisi karya David Lehman dan membacanya.

Astaga! Apa yang sedang aku pikirkan? Aaron Basch hanyalah pemuda biasa yang aku temui karena insiden 'mengambil kursi'. Aku bahkan tidak tahu dia tinggal dimana.., oh, dia tinggal di Seven Hills, aku bahkan tidak tahu ia kuliah dimana..., kalau tidak salah, di New South Wales University..., aku bahkan tidak tahu nomor ponselnya..., Astaga, ini benar-benar konyol!

Ini pasti efek karena kelelahan.

Aku sudah tiba di depan kamar apartement-ku. Memasukkan kunci ke lubang pintu, memutar knop dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur dan tidak memperdulikan bahwa jendela sedang terbuka dan membuat desiran angin malam di musim gugur masuk ke dalam ruanganku.

Besok pagi, semua akan berjalan lancar seperti biasa. Dan sepertinya, Aaron Basch akan menghilang dari pikiranku seiring dengan menguapnya rasa lelah yang menempel di tubuhku ini.

***

One said to me tonight or was it day
or was it the passage between the two,
"It's hard to remember, crossing time zones,


Flying - Sarah Arvio

***