Sunday, 22 March 2015

I Just Finished You

The end of the chapter of Saman, Ayu Utami

It almost enters April.

And I haven't read any fiction book. Literally. Because I've been busy (lol, seriously).
But, yes, it's true. I haven't.
But I have read you. I have finished you.
And I am quite happy.
Because after longing for the answer of the riddle in you, I finally found it.

And no doubt, of course, that I am quite sad too. Simply because, me, you; end.
I can't find surprises in you anymore. I can't find the pleasure of touching you, sniffing you, wondering you, guessing your end, I just can't.

***

Middle of 2013.

Hi, my name is Wulan and you can mind my name by calling me nobody or whatever.

I love reading. Especially those books that make me being a desperate bitch for days, or maybe weeks, and those books that left hundred of dead butterflies in my stomach.

Ugh, I can't resist good books.

I was on my way of finding good books. And I found this book. Well, I had no idea what genre this book was but that was okay. This book might be interesting as well.

--

See? I was right! This book was undeniably good! Even awesome! I found myself laughed. I found myself happy when I turned the next page.

See you guys later! I need more time to spend with this book. Alone. Just the two of us. Ehe.

--

I love this book. Well-written, well-packaged, well-everything.

Enough said.

--

Months passed. 

And I can't find my book.

Where are you?

--

Um, hello..

Well, this is awkward...

But...

Why are you gone?

Please, come back. Let my fingers explore you. Let my nose sniff you.

Please..?

--

***

Middle of 2014.

It seems that I have no chance anymore.

I lost my good book. I can't even..

--

I've been looking information about you, my book. And I found some. Yet, I am still in doubt that you wouldn't mind if I *cough* stalk you.

Is that okay with you, book?

--

***

Early March, 2015.

Finally, finally, finally. I've got a chance to explore you again. To read you. To finish you. To find surprises in you.

Knowing that you are okay and do things well makes me happy.

Thank you for believing in me.

***

Fast forward to now, 3 weeks after.

Now it's time.

To close you.

To (supposedly) be satisfied because the riddle in you has been solved. 

But I cannot be satisfied *that* easily, you know.

I haven't had enough time to explore you. To sniff you. To mark every lovely word in you using my marker.

But well, you already said those ultimate words.

So, yeah, I better do what you said.

Because, you are the best book I've ever read (and sniffed) so far. And I, of course, cannot refuse your command.

You are my closed book now. Because I past-participle you.

***

But seriously, it's rare for me to find a book with "Finish"/ "End"/ "Selesai" written at the end of the chapter.

So I simply assume that the story wasn't really end that way.

Sometimes the story still creeps on us, haunts us, makes us wonder.

And even though you said those ultimate words, I neither found the word "Finish" nor "End" nor "Selesai". Well it might only me who was being a baper bitch.

So..

Is there still hope...?

You know, the story, can it be continued?

Well, if it can't, that's okay.

I can still reread you though.

And who knows I could find another object in you which I missed months ago.

And once again, or twice, or third, being grateful because The Lord has been letting me explored you back then.

I knew I was a lucky bitch. And I still am. Because I've ever had you.


***

The Yellow Birds, Kevin Powers.

Sunday, 8 March 2015

Semangat Terus

Semangat terus jangan sampai engga.

Iya, semangat terus. Kalo tiba-tiba merasa nggak semangat, ya harus semangat terus biar semangat.

Kenapa harus semangat, sih?

Ya biar kita semua jadi semangat. Apalagi?

Oh! Biar bisa melihat senyum penuh kemenangan dan kepuasan dari para berandal ini. (yang nggak ada di foto ini, maaf ya. Lagian salah sendiri kenapa nggak ikut foto-foto. Bwek.)


Semangat terus. Hidup ini kayak buku trilogi. Atau bahkan tetralogi, yang terdiri dari beberapa buku. Buku 1 sudah selesai? Ish, jangan seneng dulu. Masih ada lanjutannya. Masih banyak yang lebih klimaks. Maka dari itu, semangat terus, ya, jangan sampai engga.




Materi praktikum numpuk? Tugas-tugas jadi lebih gila dari semester-semester sebelumnya? Pendalaman Materi setiap hari? Kuis terus tiap awal dan akhir minggu? My ass. Semangat terus makanya. Biar nggak ngeluh mulu.

(Atau mungkin bisa minta tolong sama mereka biar tugas-tugasnya diratain, dibenyek-benyekin pake Rolling Pin.)


Semangat terus.
Kalo nggak semangat, nanti Kepala Suku bisa marah.


Semangat terus....

Semangat selfie maksudnya. Ehe.



 



Semangat terus. Biar kita bisa sukses bareng-bareng. Biar kita bisa bilang, "CUK, GUE LULUS UN, CUK." dan nggak ada satu pun berandal-berandal kesayangan kita semua yang ketinggalan.

Semangat terus. Karena sebentar lagi, kita udah sampai di ending Buku 1. Kalo udah selesai, ya udah. Tapi masih ada Buku 2 atau Buku 3 atau Buku 4 yang udah nungguin. Yang udah nuntut minta dibaca. Makanya semangat terus. Biar cepat selesai. Kasian buku-buku lain yang udah nunggu buat dibaca. Nunggu itu nggak enak tau.

Semangat terus. Kalau nggak semangat, kapan mau semangatnya? Kapan mau suksesnya? Kapan mau nunjukin ke semesta kalau semangat kita bakalan berbuah hasil?

Semangat terus. Biar nggak disangka iklan sosis yang diulang-ulang. Biar nggak disangka iklan sosis yang diulang-ulang. Biar nggak disangka iklan sosis yang diulang-ulang.

Oke maaf.

Semangat terus. Karena saya, gue, masih bukan orang yang verbal.

Yang nggak bisa secara langsung ngasih semangat ke kalian semua, 31 bajingan yang udah bareng-bareng sama gue selama 2 tahun terakhir ini.

Ya coba aja bayangin gue ngasih semangat ke 31 anak-anak kelas. Kalo nggak heboh. Kalo nggak salting. Hah.

Jadi mending nggak usah.

Jadi mending lewat tulisan ini. Lewat doa.

Gini-gini gue bisa melankolis orangnya.

Ehe.

Jadi, semangat terus, ya.

Jangan sampai engga.

Kalo nggak semangat, gue santet lo semua satu-satu. Gue benyekin pake Rolling Pin. Gue siram larutan HCl biar badan lo semua pada gatel-gatel. Mamam.

Friday, 20 February 2015

Bapak



Bapak. Begitu saya biasa memanggilnya.

Saya rindu bapak.

Dan alasan mengapa saya menulis tentang bapak di sini adalah karena rindu ini sudah tidak terbendung lagi. Dan saya (masih) bukan orang yang verbal yang bisa dengan mudahnya menceritakan segala keluh-kesah saya pada semua orang. Atau beberapa orang. Ah, apa bedanya?

Saya cerita sedikit tentang Bapak, ya.

Bapak saya adalah seorang pesulap. Perawakannya memang seram. Dengan kumis lebat yang menggantung di antara mulut dan hidungnya. Tapi ketika kalian melihatnya tersenyum--abrakadabra!--kesan seram itu akan sirna dalam sekejap. Digantikan oleh sosok yang ramah.

Bapak saya adalah seorang MacGyver. Tangannya lihai sekali saat membetulkan barang yang rusak. Atau menciptakan barang baru. Alat elektronik, peralatan dapur, mainan, katakan saja, semua pasti akan kembali berfungsi seperti sedia kala. Bahkan lebih baik dari fungsi aslinya.

Bapak saya adalah seorang koki. Tidak terhitung berapa banyak masakan lezat yang bapak buat untuk saya, ibu, dan kakak saya. Jangan ditanya rasanya. Jujur, sampai sekarang saya belum menemukan telur dadar yang rasanya melebihi telur dadar buatan bapak.

Bapak saya adalah seorang penyanyi. Suara bapak bagus. Saya suka mendengar bapak berkaraoke setiap hari Minggu di rumah. Lagu yang selalu bapak putar tidak jauh dari lagu-lagu milik Michael Jackson dan New Kids On The Block.

Bapak saya adalah seorang teman yang baik. Bapak selalu menemani saya bermain. Mulai dari lempar bola di teras, ular tangga, dan monopoli. Bapak juga selalu berbagi. Apapun miliknya, kalau saya suka, pasti milik saya juga. Bapak juga selalu berbagi makanan. Suatu ketika bapak membelikan saya lolipop. Saya mencobanya. Dan saya tidak suka. Saya mengembalikan lolipop yang sudah saya kulum itu kepada bapak. Dan bapak menerimanya dengan senang hati dan mulai mengulumnya. Bapak juga pernah berbagi minuman berenergi dengan lambang kepala banteng di botolnya kepada saya. (Sstt, ibu saya tidak pernah tahu tentang hal ini.)

Bapak saya adalah seorang pendengar yang baik. Ceritakanlah segala keluh-kesahmu pada bapak, dan bapak pasti akan membantumu mencari jalan keluar. Bahkan tidak jarang bapak menyelipkan beberapa lelucon.

Bapak saya adalah seorang pekerja keras. Bapak berangkat ke kantor pukul 8 pagi. Dan pulang ke rumah pukul 7 malam. Dan bapak tidak akan tidur sebelum pukul 3 pagi. Saya tidak tahu kenapa. Tapi kadang saya berpikir bapak saya tidak akan pergi tidur sebelum kami, anak-anak dan istrinya tidur lelap. Bapak ingin memastikan kami baik-baik saja. Karena jika salah satu dari kami terbangun di tengah malam dan butuh sesuatu, bapak yang selalu hadir dan memenuhi sesuatu itu.

Bapak saya adalah seorang yang tegar. Bahkan saat divonis menderita kanker kelenjar getah bening stadium 3 dan komplikasi, bapak masih bisa tersenyum. Walau kanker itu membuat bapak tidak bisa bicara dan beraktivitas banyak, bapak masih bisa menemani saya menonton tv. Bapak masih bisa membetulkan mainan saya yang rusak.

Bapak saya adalah seorang pejuang. Di sela hari-harinya yang dipenuhi dengan segala macam obat dan diet ketat, bapak masih pergi bekerja. Kami semua melarang. Tapi bapak keras kepala. "Biar bisa beliin adek kamera baru," ujarnya suatu hari sebelum berangkat bekerja.

Bapak saya adalah seorang yang luar biasa. Bahkan saat bapak meninggal tahun 2010 lalu, saya masih bisa merasakan semangatnya untuk hidup di kamar itu.

Bahkan sampai sekarang, saya masih bisa merasakan semangat itu.

***

Saya tidak tahu apakah bapak tahu saya bukanlah orang yang verbal. Namun sepertinya bapak tahu.

Dan di saat-saat seperti inilah, ketika segala tekanan dan emosi bercampur jadi satu, saya merasa saya berada di titik paling lemah. Saya seperti berada di ujung jurang. Satu dorongan saja, dan selesai sudah.

Saya tidak memiliki banyak orang yang bisa saya andalkan. Terutama untuk masalah yang seperti ini. Yang melibatkan hati dan logika. Walau jauh, jauh di dalam hati saya ingin sekali berbagi keluh-kesah, saya tidak mampu. Saya tidak bisa. Walaupun bisa, pesan saya tidak akan tersampaikan.

Karena sampai sekarang, saya (masih) bukan orang yang verbal.

Dan saya rindu bapak.

Tidak relevan, memang. Tapi saya rindu bapak.

Ada beberapa masalah yang sepertinya hanya bapak yang mengerti dan tahu jalan keluarnya. Bantu anakmu ini, ya, Pak? Saya janji, kalau sempat, kalau ada waktu, saya akan berziarah dan membersihkan rumput liar yang mulai tumbuh di makam bapak.

Ah, iya. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca ini, Pak. Salam untuk Joy, Doy, Mega, Cing, dan 14 kucing lain yang tidak sempat saya beri nama. Semoga kalian semua bahagia di surga.

Friday, 13 February 2015

Kamu dan Karya Seni

Saya akui saya bukan seorang pengamat karya seni yang baik.

Saya tidak bisa menentukan mana karya seni yang bagus secara estetika, dan mana yang tidak.

Karya seni yang bagus, menurut saya, adalah karya seni yang bisa membuat saya tersenyum hanya dengan melihat, menyentuh, atau mendengarnya.

Iya, saya tahu saya memang bukan seorang pengamat karya seni yang baik.

Saya cukup jadi pengagum dan penikmat saja.

Pengagum.

Penikmat.

Ada beberapa karya seni yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang. Juga tidak boleh dipotret. Hanya bisa dilihat dari jauh. Dan hanya bisa dirasakan dari jauh.

Ah, saya jadi ingat kamu.

Kenapa?

Karena menurut saya, kamu itu seperti karya seni; indah, tetapi hanya bisa dikagumi. 

Juga hanya bisa dilihat dan dirasakan dari jarak yang relatif tidak dekat.

Sebentar, boleh nggak, saya menjadikan kamu--si karya seni--sebagai hak milik agar saya bisa dengan bebasnya menyentuh, memotret, melihat, mengagumi, dan merasakan kamu dari dekat, seperti dari dalam dekap saya ini, misalnya?

Sunday, 25 January 2015

Saya Masih Punya Sepasang Telinga




Kamu tahu, saya mempunyai sepasang telinga. Dan keduanya masih berfungsi dengan baik.

Saya masih bisa mendengar suara-suara yang syahdu. Saya masih bisa mendengar lantunan suara adzan dari masjid di ujung gang. Saya masih bisa mendengar suara ibu saya membangunkan saya kala subuh datang. Saya masih bisa mendengar lantunan suara dari radio peninggalan almarhum ayah saya yang sudah usang. Saya masih bisa mendengar suara gesekan daun-daun di halaman yang saling mengucap rindu.

Mengucap rindu.

Hahaha, rindu apa.

Kamu tahu, saya mempunyai sepasang telinga. Dan keduanya masih berfungsi dengan baik.

Kadang telinga saya mendengar apa yang ingin saya dengar. Namun kadang mendengar apa yang tidak ingin saya dengar. Dan tidak jarang mendengar sesuatu yang tidak ingin saya dengar namun mau tidak mau harus saya dengar; dan sebaliknya. Vice versa.

Kamu tahu, saya mempunyai sepasang telinga. Dan keduanya masih berfungsi dengan baik.

Dan saya masih bisa mendengar kamu. Kamu. Suaramu. Tawamu. Ceritamu. Gurauanmu. Candamu. Leluconmu.

Kamu tahu, saya mempunyai sepasang telinga. Dan keduanya masih berfungsi dengan baik. Dan apabila suatu saat sebelah telinga saya tidak dapat berfungsi lagi dengan baik sebagaimana mestinya, ketahuilah, saya masih mempunyai sebelah telinga yang lain.

Yang bersedia untuk mendengar ceritamu. Walaupun kamu tidak ingin ceritamu didengar oleh saya, lalu kamu memilih telinga orang lain yang masih utuh, yang sempurna, untuk mendengarkan cerita kamu.

Ketahuilah, walau sayup, telinga saya masih dapat mendengar sayup yang syahdu itu.

Walau sayup, walau kamu tidak meminta saya untuk mendengar, walau kamu tidak meminta pendapat saya tentang apa yang baru saja saya dengar, ketahuilah, saya masih bersedia mendengarkan.

Walau jauh. Walau tidak diminta.

Hanya mendengarkan saja.

Lalu diam-diam bersyukur. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa sepasang (atau sebelah?) telinga saya dustakan saat mendengar sayup syahdu yang keluar dari mulutmu itu?

Thursday, 22 January 2015

Saya Bosan Menerka-Nerka

Kalau ditanya, "apa sih yang bikin kamu suka sama dia?", maka saya akan menjawab,

"Saya suka punggungnya."

Iya, saya akan jawab itu. Lalu disusul oleh "selera humornya, senyumnya, tawanya, tatapan matanya--"

"Lho, berarti kamu lihat dia dari fisiknya, dong?"

Iya. Saya nggak mau munafik. Toh, itu cuma punggung.

Cuma punggung.

Yang (kata orang) biasa saja. Yang tidak kekar. Yang tidak bidang. Yang tidak kuat.

Yang tapi bagi saya, menyimpan banyak kekuatan. Yang menyimpan banyak cerita. Yang terlihat tangguh, walau tidak setangguh yang orang-orang kira. Yang dengan melihatnya saja--tanpa mampu menjamahnya--bisa membuat saya tersenyum dalam diam. Yang hangat. Yang nyaman.

Ah, sial. Saya mulai bicara yang tidak-tidak.

Tapi sungguh. Saya suka punggung itu. Saya suka punggungmu itu.

Ah, saya bosan menerka-nerka senyaman apa rasa punggungmu. Boleh nggak sih saya memersetankankan semua hal dan langsung bersandar di punggung kamu saja?

***

Thursday, 1 January 2015

Nwe Yaer Whta?

My first pure black-to-death coffee in 2015.

It's 2015 already.

New Year.

2014 was a good year.  Yes, indeed it was.

I've learned a lot in 2014. I've got many experiences. I've laughed a lot. I've cried a lot. I read a very good book seriously only if I could marry it.

And I  found him.

My object, whose laugh is crunchy. Whose smile is extremely sweet I almost could feel diabetes creeping up on me.

It's him. Who never sees me. Because I am either unseen, or he doesn't even care and got no time to look upon me.

And it's me, who stays quiet. Who smiles in silent. Who is his nobody, yet keeps wanting to be his somebody, someday.

-------------------------------------

Oh, look. I am murmuring *crap* again.

Forgive me, 2015.
I'm counting on you.