Monday, 7 May 2012

My Brother's 20th Birthday

Actually, ulang tahunnya kemaren ._. tapi saya baru sempet ngeblogging sekarang. Jadi ceritanya kemarin kakak saya ulang tahun. nggak ada yang spesial sih hahaha. tapi tetap, harus di tulis! :p (lha ini apa hubungannya -_-)

kakak saya ulang tahun yang ke 20. makin tua aja x) namanya Arya Sulistyo. nih fotonya waktu dia masih kecil sampe sekarang :D





 
Yak, semoga di tahun ini, seiring bertambahnya umur kakak saya, diberi kemudahan di setiap langkahnya. amiiin. Oh iya, semoga kakak saya cepet selesai kuliahnya, dapet kerja, mapan, terus beliin saya iPad x)) xoxo

Saturday, 5 May 2012

Somewhere Out There

Good day! tadi saya abis searching di youtube, dapet 1 video soundtrack film kartun jadul yang judulnya An American Tail. lagunya sedih, nada sama liriknya itu lho.. err daripada banyak basa-basi, nih check the video out!



 
 
 
 

Wednesday, 2 May 2012

Teman-teman, Kenangan, Keluarga, Biaya, Cibiran dan Keteguhan Hati.

Perpisahan. Sebentar lagi. Saya udah kelas 9 masalahnya. Perpisahan ke Jogja yang menurut saya, ini serius lho, interesting. saya mau ikut. mau, apalagi secara ini kengan terakhir yang harusnya, semestinya di abadikan oleh kita semua. tapi semua hal nggak bisa jalan mulus lus lus kayak pantat bayi. adaaaaaaaaaaa aja kendalanya. barang seujung kuku-pun itu.

pendaftaran peserta tour ke Jogja ditutup tanggal 4 Mei 2012 besok. dan saya belum nentuin sama sekali ikut atau enggak. maunya, maunya sih enggak. tapi nggak enak sama temen yang lain. tapi ada sedikit celah di dalam hati saya yang berteriak "GUE MAU IKUT KE JOGJAAAAAAAAAA!!!!!!!" yang nggak ikut lumayan banyak sih dari kelas saya. termasuk saya salah satunya. tapi tadi barusan, mereka pada berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut ke Jogja.

biayanya cukup menguras kocek. apalagi sekarang semua tanggungan beban keluarga tertumpu sama ibu saya seorang. saya tau, semua orangtua pasti berusaha sekuat mungkin untuk menyenangkan anaknya. ibu sama ayah saya juga begitu. sama. tapi bedanya sekarang, ayah saya udah nggak ada. kasian ibu saya yang nanggung semua sendiri. belum lagi biaya yang lain. kalo diitung-itung biaya untuk tour ke Jogja itu bisa dipake buat saya sekeluarga makan kurang lebih 20 hari.

saya tau pasti nanti saya nyesel kalo nggak ikut acara tour ini. pasti. tapi seenggaknya saya nggak mau liat ibu saya capek. kalo misalkan nanti saya emang nyesel berat, seenggaknya saya gak ngebebanin ibu saya.

masalah kenangan, kenangan itu gak mesti dari sebuah barang yang kita sebut foto, kan? kenangan bisa darimana aja. walaupun nanti kita semua bakal misah (ini ditujukan buat semua orang yang saya kenal), saya pasti akan menyimpan semuanya di dalam hati saya.

jujur lho, saya juga sebenernya mau ikut. tapi sayang, garis takdir berkata lain. mungkin saya memang nggak bisa menemukan kebahagiaan dengan kalian semua di Jogja, tapi hei, bagaimana dengan kenangan kita di sekolah? kita hanya beberapa hari di Jogja. sedangkan sekolah? hampir 3 tahun kita disana. belajar bersama, bersenang-senang, mulai menemukan apa itu arti pertemanan yang sesungguhnya.

kalo nanti, 10 atau 20 tahun lagi kita bertemu, dan saya lupa siapa kalian, marahin aja saya. maki-maki aja saya, kenapa saya bisa sebegitu bodohnya sampai-sampai ngelupain teman saya sendiri.

kalau misalkan ada mulut yang 'berkomat-kamit' tentang mengapa saya nggak ikut dengan kalian, jangan bikin diri kalian capek, ya. buat apa komat-kamit kayak gitu padahal saya sendiri nggak denger? mendingan tenaganya di simpen buat teriak "AKU LULUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!!!!!" tanggal 2 Juni 2012 nanti

Tuesday, 1 May 2012

Guratan Kecil

                Semua orang mempunyai mimpi. Semua. Se-mu-a. tak terkecuali aku. Mimpiku banyak. Ada ratusan ribu, dan hanya sepersepuluh saja yang baru terwujud. Sisanya? Belum terwujud. Entah kapan terwujudnya. Tapi meskipun mimpi-mimpi itu masih belum terwujud, aku tetap berdoa pada Tuhan. Berharap agar mimpi-mimpiku itu segera terwujud.
                Mimpi gilaku salah satunya adalah membeli saham, atau bahkan kalau bisa membeli pabrik cokelat beserta isinya milik tokoh fiksi Willy Wonka. Gila? Ya, mimpiku aneh. Jauh dari kata normal. Tapi hei, ini mimpiku. Di mimpiku, di mimpimu, mimpi kalian, mimpi kita, kita sendiri bisa bermimpi  yang aneh-aneh. Ayolah, jangan malu. Jangan takut tidak terwujud. Ada Tuhan yang akan mewujudkannya.
                Mimpi gilaku yang kedua. Jujur, aku sendiri tidak tahu hal ini di kategorikan kedalam mimpi, ambisi, obsesi, atau apa. Yang aku tahu, aku bermimpi, dan aku akan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu. Itu pointnya. Kita kembali ke beberapa bulan silam. 8 bulan 6 hari, lebih tepatnya. I met someone. Bukan di dunia nyata. Bukan juga di dunia khayal. Tapi di dunia maya. Bersyukurlah karena teknologi sudah maju sekarang ini. Karena kalau tidak, kemungkinanku untuk mengenal orang itu hanyalah tiga banding sembilan juta.
                Entah apa yang membuatku tertarik pada orang itu. Toh aku belum pernah ‘menemuinya’ secara nyata di dalam kehidupan manusia yang absurd ini. Perkenalanku hanyalah sebatas beberapa foto. Yap, benda dua dimensi. Benda dua dimensi yang berdampak luar biasa. Tidak percaya? Dampaknya sudah menempel di tubuhku. Masuk ke dalam ragaku, mengalir di dalam aliran darahku, oke ini hiperbola. Hanya dari sebuah foto, aku merasa kalau aku benar-benar yakin bahwa, dia orangnya.
                Dia memang bukan orang terkeren, tertampan, juga orang dengan segala ter yang pernah aku temui, TAPI, dia orang pertama yang mampu membuatku menunggu. Menunggu. “Apa sih enaknya menunggu? Lebih enak juga ditunggu.” Itu komentar yang biasa aku dengar. Jujur, aku sendiri juga bingung. Kenapa aku mau menunggu orang itu? Orang yang mungkin, menganggapku sebagai orang asing yang gila. Tapi tidak untukku. Aku tidak menganggapnya sebagai orang asing. Aku menganggapnya sebagai seseorang dalam hidupku, yang mempunyai peranan penting. Seperti itulah.
                Dia orang pertama yang membuatku menjadi seorang penggemar yang fanatik, dia orang pertama yang membuatku bingung—tapi juga senang, dia orang pertama yang berhasil mengubahku hampir, 180 derajat. Dia orang pertama yang membuatku mengerti apa itu rasanya menyukai seseorang. Dia orang yang mampu membuatku bahagia dan menangis di saat yang bersamaan.
                Sudah cukup dengan dia-nya. Sekarang dengan aku.
                Aku yang histeris saat melihat namanya terpampang di layar komputerku dengan tulisan ‘is now available to chat.’, aku yang selalu mengintai aktivitas facebooknya. Apapun itu. Aku yang selalu mengambil fotonya dari Facebook tanpa persetujuan dan pengetahuannya, aku yang dibuat tertawa dengan perkataannya yang konyol di wall Facebook-nya, aku yang menangis—terharu saat ia baru memposting foto dirinya, aku yang menulis berlembar-lembar tulisan tentangnya, cerita, puisi, sajak, aku yang selalu teringat akan dirinya saat  mendengar dentingan piano dan lagu Miss You Like Crazy yang ditembangkan oleh Natalie Cole, dan aku yang menyukainya. Bahkan, lebih dari sekedar kata suka.
                Mungkin ini terdengar aneh bagi kalian, dan sama, bagiku juga aneh. Kami berbeda. Banyak perbedaannya. Agama, iman, kewarganegaraan, pola hidup, tapi seakan-akan ‘perbedaan’ diantara kami itu bagiku tidak ada. Tidak ada perbedaan. Kami sama.
                Kalian tahu? Dia salah satu motivasiku untuk memperdalam tatanan Bahasa Inggris-ku yang belum fasih. Dia yang menumbuhkan mimpi-mimpi gila padaku. Seperti, saat dewasa aku harus pergi ke Australia untuk menemuinya. Hanya bertemu. Itu lebih dari cukup. Tak berbicara, tak menyapa, hanya melihatnya dari kejauhan. Meskipun ia sudah berkomitmen dengan seseorang, siapapun itu, dan bukan aku, asalkan aku sudah bisa menemuinya, melihat wajahnya secara nyata, bukan dari barang dua dimensi, itu sudah lebih dari kata cukup.
                Karena saat ia bahagia, yang aku tahu, aku juga ikut bahagia. Kalimat sederhana yang klise, picisan, murahan, atau apapun bagi kalian, terserah. Karena bahagia itu sesungguhnya memang betul-betul sederhana.

Bekasi, 14 April 2012.
Dwi Ayu Wulandari